7. Snapcart Team

Reynazran Royono – Snapcart “Aplikasi Pemasaran Dengan Ide Unik”

“Sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis, Snapcart diunduh hingga 12,000 tanpa ada kampanye marketing apapun, saat ini terdapat lebih dari 85,000 pengguna aktif setiap bulannya.

Ketika detik.com di akuisisi Transcorp dengan nominal yang kabarnya mencapai US$60 Juta atau Rp. 500 Milyar pada tahun 2011 lalu, banyak yang kaget dengan berita tersebut. bagaimana konten lokal yang di motori oleh sejumlah wartawan ini mampu menggebrak industri digital yang saat itu baru mulai bersemi. Apa yang terjadi pada detik.com rupanya awal dari bubble start up potensial di Indonesia.  Mulai dari Tokopedia, bukalapak, Sribu dan sejumlah start up lainnya bermunculan dan mendapatkan pendanaan dari berbagai investor. bahkan gelontoran dana itu bukan hanya berasal dari dalam negeri, tapi justru dari luar negeri yang lebih dominan. Dan tidak sedikit dari sejumlah lembaga keuangan besar yang telah memiliki nama dan reputasi mentereng berperan sebagai angel investor. Dan pada tanggal 5 Januari 2016 lalu, satu lagi start up Indonesia mendapat atensi internasional. Aplikasi mobile asal Indonesia berlabel Snapcart memperoleh pendanaan pre-series A yang mencapai nominal US$1,675,000 dolar. Sejumlah partisipan dalam pendanaan ini adalah Wavemaker Partners, SPH Media Fund, SMDV dan Ardent Capital.

Bukan tanpa alasan sejumlah investor menaruh minat yang besar pada aplikasi ini, sejak diluncurkan pada 2 September 2015 lalu, traksi Snapcart telah bertumbuh cepat hingga lebih dari 150.000 download dan lebih dari 85.000 pengguna aktif bulanan. Bagi Reynazran Royono, Ceo dan pendiri Snapcart, ini adalah keberhasilan awal bagi rencana Snapcart kedepan. “Saya percaya kami bisa mendapatkan kepercayaan dari para investor karena keberhasilan awal kami dalam menggandeng dua brand FMCG besar di Indonesia, Nestle dan l’oreal,” ungkapnya. bahkan traksi yang Snapcart Aplikasi Pemasaran Dengan Ide Unik.

“Sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis, Snapcart diunduh hingga 12,000 tanpa ada kampanye marketing apapun, saat ini terdapat lebih dari 85,000 pengguna aktif setiap bulannya tinggi tersebut diperoleh tanpa kampanye marketing apapun. “Traksi yang kami dapatkan sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis juga menakjubkan, dengan 12.000 pengunduhan aplikasi tanpa ada kampanye marketing apapun. Dalam waktu yang relatif singkat kami juga berhasil bekerja sama dengan lebih dari 35 brand, termasuk brand dari Procter & Gamble dan Unilever,” ujar pemuda yang akrab dipanggil Rey ini.

Hal ini juga diakui oleh Paul Santos dari Wavemaker Partners, “kemampuan untuk melakukan targeted engagements, dan juga potensial big data, menjadikan Snapcart sebagai sebuah platform b2b yang unik di Asia Tenggara. Traksi yang didapat dari brand dan pengguna sangat menunjukkan kepada kami betapa besarnya potensi lekatnya layanan ini bagi konsumen di Indonesia, dan karena itu tidak ternilai harganya bagi brand offline dan retailer yang memanfaatkan teknologi mobile.”

Ekspansi Pasar & Lawan Baru

Rencananya, dengan dana sebesar ini, Snapcart akan menggunakannya untuk membangun produk-produk baru; termasuk fitur video engagements dan perangkat dashboard analitik. Fitur-fitur ini akan mengakomodasi brand dengan platform yang mereka butuhkan untuk melihat perilaku konsumen mereka secara real-time, serta membantu brand untuk memformulasikan rencana marketing mereka selanjutnya. Sebagai tambahan, Snapcart juga berencana untuk melakukan ekspansi ke setidaknya dua pasar lain di Asia Tenggara, dimulai dengan Filipina pada awal tahun 2016.

Selain itu, proffesional Mayeth Condicion, mantan direktur riset Procter & Gamble juga turut bergabung dengan Snapcart sebagai Chief Data officer and Co-Founder. Dengan pengalamannya yang ekstensif selama 17 tahun di bidang analitik dan wawasan konsumen di Asia, Mayeth akan memperkuat layanan untuk klien serta memimpin operasi di Filipina. Mayet sendiri telah berpengalaman memimpin berbagai proyek global selama di P&G untuk menjadikan riset pasar di masa depan lebih dari sekedar survei tradisional.

“Memanfaatkan basis pengguna Snapcart yang besar dan bertumbuh cepat, memberikan kami kemampuan untuk mempertemukan teknologi, ilmu data dan pemahaman konsumer, sehingga menghasilkan shopper insights yang lebih baik,” ujar Mayeth yang sangat bersemangat untuk membawa kapabilitas ini ke Asia Tenggara.

APP Cashback

Snapcart sendiri adalah aplikasi yang memberikan cashback kepada para pelanggan untuk setiap foto struk yang mereka upload, dan memberikan brand sebuah platform untuk berinteraksi dengan pelanggan offline mereka. Selain memberikan brand wawasan perilaku konsumen mereka secara real time, Snapcart juga memberikan brand kesempatan untuk berinteraksi lebih lanjut dengan pelanggan offline mereka melalui pengisian survei dan selfie review. Jumlah pertanyaan survei yang telah dijawab dalam aplikasi sudah melebihi 150.000 pertanyaan, dengan rata-rata 500 pertanyaan terjawab setiap harinya.

Ketika diluncurkan pada awal September, Snapcart secara organik diunduh sebanyak 12.000 kali tanpa aktivitas marketing. Saat ini, traksinya telah secara cepat tumbuh ke lebih dari 150.000 unduhan, dan lebih dari 85.000 pengguna aktif bulanan. Snapcart saat ini sudah tersedia di Google App Store untuk ponsel Android, sementara versi ioS akan segera diluncurkan. Dan belum lama ini, Snapcart juga memenangkan kompetisi Campaign Innovate yang diselenggarakan oleh Campaign Asia-Pacific dan disponsori oleh Monicom Media Group, suatu acara yang bertujuan untuk memberikan sebuah sarana untuk perusahaan-perusahaan startup di Asia-Pasifik untuk memberikan presentasi kepada brand-brand terbesar di dunia, dengan juri dari perusahaan-perusahaan FMCG multinasional seperti Unilever dan Mondelez. Kemampuan Snapcart untuk menggabungkan unsur hadiah dan bentuk analisis yang baru untuk brand adalah sebuah kombinasi yang sangat baik, yang mendorong Snapcart menjadi pemenang di antara puluhan perusahaan startup di kawasan regional ini.

Waktunya Bertumbuh

Saat ini, rencana jangka panjangpun telah disusun, dimana nantinya tahap pertama akan digunakan untuk pengumpulan data massal. laith Abu Rakty, CTo dari Snapcart menyampaikan, sekarang ini telah lebih dari struk yang diterima setiap harinya, sehingga sistem operasi yang ada harus di upgrade. “Tahap pertama pengembangan kami lebih difokuskan kepada pengumpulan data massal dan akuisisi pengguna, aktivasi, dan engagement. Sekarang, dengan lebih dari seribu struk yang diterima setiap harinya, kami ingin menyempurnakan sistem otomatisasi dan meng-upgrade aplikasi yang ada. Di Indonesia, ada banyak format struk yang berbeda, bahkan di dalam waralaba ritel yang sama, sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diotomatisasi. Ini adalah tantangan yang ingin kami atasi di tahap berikutnya,” ungkap laith.

Sementara untuk jangka pendek, maka Snapcart menargetkan untuk mencapai 1 juta pengunduh dalam waktu kurang dari setahun. “Akuisisi pengguna selalu ada dalam agenda, namun sekarang kami melakukannya dengan cara bermitra dengan perusahaan FMCG dan vertikal lainnya melalui kombinasi kegiatan offline dan pemasaran online. Snapcart berambisi untuk mencapai 1 juta pengunduh dalam waktu kurang dari setahun,” tambah Rey.

Sebelum mendirikan Snapcart, Reynazran menghabiskan 12 tahun di Procter & Gamble dan The Boston Consulting Group sebelum memimpin berniaga.com (sekarang bergabung dengan olX.co.id), C2C situs iklan baris terkemuka di Asia Tenggara. Sementara partner-nya laith adalah seorang ahli teknologi dengan lebih dari tujuh tahun pengalaman meluncurkan e-commerce dan platform teknologi, termasuk bobobobo.com, situs belanja mewah dan wisata terkemuka di Indonesia.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri