DSCF5800

Reza Arganata – Trik Skateboard dengan mengubahnya menjadi Kacamata

Suka extreme sport? Kalau iya, biasanya punya jiwa militan dengan olahraga tersebut. Ada macam-macam bentuknya, mulai dari BMX, Surfing sampai dengan Parkour. Salah satu yang diminati anak-anak muda adalah Skateboard. Olahraga ini masuk dalam kategori ekstrem, karena resikonya yang tidak ringan, dan bukan hanya tubuh kita yang jadi taruhannya, tapi juga papan luncur yang kita gunakan. Alhasil, para penyuka olahraga ini biasanya harus pasrah jika melihat skateboard-nya patah atau rusak karena mencoba trik-trik baru.

Hal yang sama, terjadi pada Reza Arganata. Pemuda kelahiran Denpasar, 22 Desember 1993 ini merupakan mahasiswa akhir Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Penggila olah raga skateboard dan kerap mendapati papan luncurnya menjadi korban dari percobaannya menjajal trik-trik baru, alhasil koleksi papan luncur rusak di rumahnya menjadi bertumpuk. Bingung dengan kondisi itu, dan merasa sayang jika harus membuangnya, ia pun kemudian mendapatkan ide unik. Pada tahun 2015, ia mendapat ide untuk merubah papan luncurnya menjadi kacamata dengan konsep desain yang unik. Dan hebatnya, keisengannya ini bukan saja memproduktifkan barang bekas yang dimilikinya, namun juga menjadi ajang untuk cari duit. Akhirnya, ia mendirikan usaha dengan brand Cik Eye. Kepada reporter Money&I Angga Wijaya, ia bertutur tentang kisahnya.

Bagaimana Awalnya memulai usaha ini?

Awalnya karena suka main skateboard, dan banyak papan yang saya miliki itu rusak dan nggak terpakai, daripada dibuang sayang, saya mulai browsing di internet, buat cari ide, mau diapakan papan-papan bekas ini. Disitulah saya kemudian lihat, ada kacamata yang terbuat dari papan luncur bekas, lalu saya ingin mencoba membuatnya dengan alat-alat manual dan ternyata berhasil.

Kok bisa papan-papan itu rusak?

Saya suka melakukan berbagai trik menantang di papan seluncur, nah hal itu yang bikin cepat rusak. Dan akhirnya beli lagi, yang lama numpuk dan tak terpakai. Terus dapat ide untuk me-recycle papan-papan yang rusak itu.

Apakah dari stok papan yang rusak itu cukup untuk produksi?

Untuk awal memang pakai dari papanpapan sendiri yang sudah rusak, tapi sekarang saya mengumpulkan dari beberapa punya teman, yang ngalamin kondisi yang sama. Papan-papan rusak mereka yang numpuk, saya ambil.

Kapan mulai menjalankan hal ini?

Sekitar akhir tahun 2015. Tadinya tidak mau dibisniskan. Kebetulan saya memang suka mengkoleksi kacamata dan kacamata yang berhasil saya buat dari papan yang rusak, saya pakai sendiri. Teman-teman kemudian melihatnya, mereka langsung tertarik dan menyarankan untuk dijadikan bisnis.

Ada nama mereknya?

Ada, Cik Eye. Nama itu berasal dari panggilan saya, yakni “Cik”, itu julukan dari teman-teman, karena menurut mereka wajah saya mirip orang Tionghoa he..he..

Sistem bisnisnya seperti apa?

Saat ini masih custom order, belum ready stock. Saya memasarkan kacamata ini melalui sosial media seperti Instagram. Bagaimana respon pasar ketika mulai dijual?

Respon masyarakat sangat bagus, jumlah pemesan semakin meningkat apalagi setelah beberapa stasiun televisi datang dan mewawancarai saya. Mereka melihat keunikan kacamata yang saya buat. Sejak ditayangkan di televisi, jumlah pemesan semakin banyak terutama dari luar Bali.

Media mana saja yang sudah meliput?

Ada Net TV, MNC dan beberapa media lainnya.

Sulitkah membuat kacamata ini?

Pertama-tama saya membuat desain kacamata di kertas stiker, lalu menempelkannya di papan luncur. Setelah itu papan dipotong dan dibentuk sesuai desain. Proses selanjutnya menghaluskan dengan amplas, kemudian mencatnya
dengan pernis. Langkah terakhir adalah pemasangan lensa dan engsel kacamata.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya?

Pembuatannya cukup lama, sekitar tiga hari dari proses awal sampai jadi.

Anda hanya memberinya finishing pernis, tidak mewarnainya?

Ini yang menarik, tidak perlu penambahan warna pada produksi kacamata ini. Karena setiap skateboard sudah memiliki alur warna masing-masing. hanya diberikan pernis saja, maka jadilah warna unik pada kacamata ini.

Apa tantangannya dalam memproduksi ini?

Ketelitian. Kesulitan yang ada terutama saat pembentukan, perlu ketelitian yang tinggi dalam proses tersebut.

Soal harga bagaimana?

Harga kacamata mulai dari Rp. 600.000 hingga Rp. 800.000, tergantung jenis lensa dan tingkat kesulitan pembuatan. Bisnis kacamata ini bisa dibilang tidak terduga, karena berawal dari hobi.

Bagaimana kesan Anda?

Terus terang saya terkejut karena tak pernah terpikir bisa mengawali bisnis yang dimulai dari hobi. Dan ternyata saya menjalaninya sekarang.

Apa harapan Anda kedepan?

Saya berencana membuat bengkel atau workshop sendiri, karena saat ini saya memakai garasi rumah untuk bengkel kacamata ini. Saya juga ingin kacamata saya menembus pasar luar negeri dan Go International.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri