DSC_0056_1

Riyeke Ustadiyanto – Startup Pembayaran Online Rasa Indonesia

Belanja online memang sangat menggiurkan. Tidak perlu keluar rumah, apalagi bermacet-macet ria di jalan demi mencapai mall. Tinggal duduk di depan laptop, bahkan dari tablet dan ponsel pintar pun menjadi memungkinkan. Pilihan produk yang beragam, transaksi cepat, dan tentunya potongan harga yang bertebaran di lapaklapak dunia maya. Pasar e-commerce pun menjadi sangat prospektif di Indonesia. Tercatat oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, transaksi e-commerce telah mencapai Rp 130 triliun pada tahun 2013. Sementara itu berdasarkan riset Daily Social, pasar e-commerce di Indonesia diprediksi akan melejit sampai US$ 135 juta di tahun 2016.

Meski pasarnya cukup menggiurkan, namun e-commerce di Indonesia masih terkendala pada sistem pembayarannya. Kebanyakan transaksi masih dilakukan melalui transfer antar bank lewat ATM maupun online banking. Keamanannya pun masih dipertanyakan di tengah merebaknya kasus penipuan bisnis online dewasa ini. Tidak seperti halnya dengan negara-negara maju, belum banyak orang Indonesia memiliki kartu kredit yang notabene bisa digunakan untuk transaksi e-commerce. Lalu, apa solusinya?

Melihat persoalan itulah, seorang Riyeke Ustadiyanto merancang sebuah inovasi online payment berbasis kartu debit pertama di Indonesia bernama iPaymu. Startup berkonsep e-commerce payment gateaway yang diluncurkan sejak Desember 2012 ini ingin memberikan kemudahan dalam layanan pembayaran untuk pasar e-commerce yang terintegrasi lewat e-wallet, kartu kredit, keranjang belanja, transaksi berulang, penarikan dan transfer uang.

iPaymu dirancang ke dalam bentuk opensource platform yang memungkinkan webstore atau pun merchant bisa dengan mudah menggunakan sistem pembayaran online terpadu mereka. Yang merchant perlu lakukan hanyalah melakukan integrasi dengan Application Program Interface (API) open-source di website iPaymu. Sekitar 35.000 merchant dari berbagai sektor bisnis telah memanfaatkan iPaymu untuk kemudahan transaksi e-commerce mereka.

Pria yang akrab disapa Keke ini bersama timnya juga telah membuat iPaymu bermitra dengan jaringan ATM Prima, ATM Bersama, MEPS, Visa, MasterCard, JCB, PLUS dan Link. Tak hanya itu, sejumlah bank umum nasional juga dirangkulnya untuk memperkuat sistem pemroses pembayaran online ini. Apalagi iPaymu juga telah menanamkan sebuah fitur layanan penjamin escrow account atau rekening bersama untuk menghindari risiko penipuan, keraguan customer, maupun transaksi palsu. iPaymu juga merangkul PayPal untuk mendukungnya dalam kebutuhan transaksi online secara Internasional.

Untuk semakin mempermudah transaksi, iPaymu bahkan merilis versi mobile payment mereka yang berbasis Quick Response Code (QR Code) pada 17 Desember 2013 lalu. Ini memungkinkan sektor UMKM lebih mudah
menggunakan layanan iPaymu hanya dengan mengandalkan smartphone berbasis Android.

Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang iPaymu, beberapa bulan yang lalu M&I Magazine berkesempatan mewawancarai Keke. Pria kelahiran Yogyakarta tahun 1972 ini pun berbagi tentang ide, konsep, dan spirit dari iPaymu. Bagaimana seorang yang berlatar belakang pendidikan akuntansi dengan passion di dunia teknologi dan komunikasi ini bisa sukses merancang sebuah startup yang membantu sejuta umat online shopper di Indonesia? Apa saja tantangan dan prospek menarik dari bisnis yang diterapkan iPaymu? Pria berdomisili di Bali ini pun menguraikannya lewat petikan interview panjang berikut ini!

Bisa ceritakan bagaimana awalnya Anda mengembangkan sistem pembayaran untuk e-commerce bernama iPaymu itu?

Awalnya saya luntang-lantung dulu, kerja sama orang. Saya asli Jogja yang kemudian merantau ke Bali. Saya ambil project SEO untuk keperluan website hotel, karena saat itu banyak hotel yang terpuruk habis Bom Bali dan hanya mengandalkan internet untuk promosinya. Saat itu saya mulainya secara freelance pada tahun 2002. Dari situlah, saya baru mengembangkan sendiri badan usaha. Dikarenakan rata-rata klien saya tidak hanya di Bali, tetapi juga dari Jakarta bahkan luar negeri yang terkadang mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Terutama klien-klien saya yang di Bali, susah sekali menerima pembayaran dari tamunya yang berada di luar Bali. Lantas saya mulai mempelajari sistem pembayaran online. Akhirnya menemukan ide IPaymu itu.

Seberapa sulit untuk merealisasikan IPaymu ini?

Sebenarnya dari awal sih idenya simpelsimpel saja. Namun, karena dalam perjalanan ide saya kembangkan lagi ke tahap lanjut dan lebih besar inilah yang membuatnya tidak lagi sederhana. Apalagi sekarang, kami tengah mengembangkan lagi ke arah mesin ATM, ya jadi semakin tidak simpel. Tapi tentunya semua proses yang kompleks ini akan dibarengi dengan benefit yang lebih bagus lagi. Mengenai simpel atau enggaknya sekarang. Karena core banking-nya sudah kami punya sendiri, jadi ruwetnya telah terlewati.

Apakah sistem payment ini serupa dengan PayPal?

Kalau PayPal itu kan harus dirupiahkan lagi dan bisnisnya pun enggak asik menurut saya, karena tidak menguntungkan kita sebagai orang lokal. Lalu, saya berpikir bagaimana jika pembayaran bisa langsung dalam bentuk rupiah, jadilah iPaymu. Awalnya masih dalam kartu kredit, kemudian masuk ke debit online. Bisa dikatakan seperti e-money yang sekarang banyak dibikin oleh bank-bank umum. Hanya saja, saya lebih banyak menggunakan creative transaction yang jarang bank-bank umum lakukannya, misalnya lewat mobile dan e-commerce. Bank belum tentu bisa e-commerce.

Model awal iPaymu memang debit dengan menggunakan e-wallet yang memang gampang sih. Tapi saya juga kembangkan yang non wallet nya, karena belum semua orang Indonesia behavior-nya bagus untuk yang wallet ini.

Kenapa orang Indonesia masih takut menggunakan kartu kredit ketika belanja online ?

Masalah kenapa enggak suka pake kartu kredit buat online, karena mindset mereka masih mikir kalau kartu kredit itu hanya untuk gesek saja, enggak buat online. Mereka merasa safe kalau yang digesek sudah ada di depan matanya. Orang Indonesia seperti itu. Baru tujuh persen saja yang punya kartu kredit di Indonesia.

Mengapa iPaymu memilih Bali sebagai basis pusatnya?

Kenapa iPaymu ada di Bali, ya karena memang sebagian besar digunakan oleh hotel dan villa. Customer mereka kan kebanyakan dari luar negeri, semua jadi biar gampang untuk melakukan transaksi. Merchant kami memang belum sebanyak bank sih. Tapi, growth-nya sudah bagus hampir 3000 merchant dan itu perusahaan-perusahaan besar, karena mereka sudah mengarah ke e-commerce. Nah, ke depannya lagi growth-nya ini akan makin tambah besar.

Apa hal paling krusial yang menjadi batu sandungan untuk menerapkan sistem payment semacam iPaymu ini di Indonesia? Tantangannya seperti apa?

Regulasi masih menjadi persoalan, terutama dari Bank Indonesia (BI). Karena BI sendiri belum punya regulasi yang proven dengan e-commerce. Kalau baru ada masalah, baru bikin regulasi. Nah kalau di Indonesia kan belum ada e-commerce payment kan. Kita malah ngajarin ini lho akibat nya jika seperti ini. Malah terkadang regulasinya yang lebih ketat dari sistem transaksi yang ada. Jadi, akhirnya enggak berjalan juga. Untungnya BI cukup bijak dan sekarang sudah mulai open, mana regulasi yang harus diperbaiki dan yang tidak. Mulai melakukan perubahan-perubahan seperti itu.

Hal yang kompleks dalam pengerjaannya adalah bagaimana menyesuaikan sistem rekonsiliasi IPaymu dengan sistem perbankan. Kebutuhannya banyak sekali. Kan secara undang-undang dijelaskan, bahwasanya bank penampung harus menggunakan bank, sementara teknologinya pun kita berbeda. Tapi harus sinkron.

Jadi untuk saat ini IPaymu sudah bermitra dengan perbankan?

Untuk saat ini kami bekerjasama dengan BNI, BII, dan CIMB Niaga, sehingga pemrosesan dana jadi lebih terbantu. Ya, banyak ada bank tapi enggak semuanya open dengan e-commerce. Karena mereka belum punya platform scam, Kalau bank-bank yang tadi sudah punya scam untuk menampung dana dari e-commerce dan pemroses transaksi kita. Sekarang bank-bank sudah mulai ke sektor e-commerce. Tapi, sejujurnya mereka seperti latah saja. Padahal, proven regulasinya belum jelas dan hanya segitu-segitu saja.

Mengapa perlu transaksi sistem payment khusus untuk e-commerce ? 

iPaymu ingin memberikan solusi kepada orang-orang yang ingin upgrade ke digital, dari kalangan manapun.

Bagaimana dengan keamanan dalam bertransaksi menggunakan iPaymu?

Untuk keamanan, kita sudah punya sertifikasi keamanan khusus. Kalau bank mau bekerjasama dengan kita sebelumnya pasti mereka sudah melakukan pengujian-pengujian tertentu. Nah, kalau sudah lolos pengujinya, barulah kita mulai. Bank punya engine, kita juga punya engine. Bagaimana biar keduanya bisa natch alias ada verifikasi terlebih dahulu. Jika, engine kita sudah comply baru  bisa connect. IPaymu ini, sebenarnya saya mengoptimalkan dari transfer banknya. Bank itu enggak punya fasilitas check out otomatis. iPaymu punya fasilitas check out. Konfirmasinya pun jadi lebih cepat. Kalau ada 1000 transaksi yang masuk, masa keseribunya ditelpon untuk konfirmasi.

Bagaimana cara  menarik netizen atau wirausaha untuk menggunakan iPaymu?

Saya enggak perah mengedukasi. Kalau sudah kebutuhan bisnis, pasti orang-orang akan register dengan sendirinya. Pokoknya di SEO dan media sosial kita baguskan, sehingga orang-orang sudah mulai banyak yang tahu. Saat baru launching user-nya sudah mencapai 5000. Dalam waktu 2 setengah tahun sudah bisa mencapai 35 ribu.

Berapa lama untuk bisa meluncurkan iPaymu ini?

Satu setengah tahun untuk mempersiapkan sistem iPaymu-nya.

Bagaimana Anda melihat kompetitor iPaymu untuk kedepannya?

Pasar e-commerce sangat besar. Kalau kompetitor saya kebanyakan berawal dari top-down; mereka dari kota besar baru menyasar ke yang kecil-kecil. Tapi kalau saya kan mulainya, anggaplah dari daerah kecil seperti itu. Saya yakin merchant mereka

Belum sebanyak yang kami punya, merchant mereka belum sampai 35 ribu, dari Sabang sampai Merauke. Saya yakin itu.

Sudah ada investor yang tertarik dengan iPaymu?

Sudah ada beberapa investor yang melirik, tapi kami mencoba menyaring kembali investor yang skeiranya kami anggap kuat. Bahkan sering juga diminta untuk melepas iPaymu, tapi saya enggak mau, masih pengembangan soalnya. Kalau sekarang ini belum lah, kalau 5 tahun lagi gak tahu ya.

Pengembangan apa lagi yang tengah iPaymu lakukan?

Dua sampai tiga tahun lagi, sistem ini akan masuk ke IPO (Inital Public Offering); masuk ke bursa. Oh ya, emang harus ke sana, biar bisa kuat. Paling cepat 3-4 tahun lagi sudah bisa masuk ke sana. Sekarang pengembangan network dengan seluruh perbankan. Harus comply dengan aturan-aturan yang terkait. Karena ini model bisnis baru, jadi kalau nanti sudah IPO, orang yang ingin invest ke iPaymu merasa safe dan bagus. Nanti enggak ada lagi pembayaran via ATM itu lagi. Kami hanya mengambil keuntungan 1 persen dari per transaksi IPO.

Darimana Ana mempelajari semua ini hingga akhirnya bisa merancang iPaymu yang sekarang?

Saya pelajari cara kerja PayPal. Saya pelajari yang berkaitan dengan transfer bank. Saya bandingkan dengan luar negeri, kalau di Indonesia sih masih ada local wisdom-nya yang saya pelajari. Oh, ternyata enggak bisa membawa online payment itu seperti PayPal ke Indonesia. Harus dengan sentuhan-sentuhan lokal. Orang Indonesia itu suka transfer kan, nah nanti akan dibikin biar transfernya makin dipermudah. Agar orang di pelosok juga bisa dengan mudah bertransaksi.

Apa sebenarnya kunci keberhasilan dari sebuah startup?

Bisa menjadi problem solving. Orang Indonesia itu dari 250 juta yang punya rekening hanya 60 juta orang. Lebih gede malah pengguna handphone-nya, bahkan bisa mencapai lebih dari 80 juta. Pemilik website saja baru 5 juta, sementara Facebook sudah 10 juta dan mereka bertransaksi disitu. Itu yang saya garap.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri