IMG_0493

Sabbatha Rahzuardi Maya Dwiyanto – Wajah Indonesia dalam Sabbatha yang Mendunia

Dari Pulau Dewata, Sabbatha Rahzuardi melahirkan “mahakarya”-nya yang Go International.

Di mata kaum hawa, nama “Sabbatha” menjadi jaminan mutu untuk sebuah tas berkualitas premium dengan rancangan mewah bermaterial kulit serta bertahtakan bebatuan alam Indonesia. Tak hanya itu, merek “Sabbatha” ini pun kian prestisius setelah supermodel Elle Mc Pherson, aktris Katie Holmes, serta Julia Roberts menggunakan produk tasnya. Tak ketinggalan Anggun C. Sasmi, Melly Goeslaw, hingga Christine Hakim juga meminatinya.

Adalah Sabbatha Rahzuardi, sang kreator bertangan dingin di balik daya pikat “Sabbatha”. Pria kelahiran 28 Mei 1977 ini memiliki visi untuk mengangkat warisan budaya Indonesia melalui brand fashion accessories “Sabbatha” yang dibangunnya sejak 2005 silam. Dalam waktu yang singkat, brand Sabbatha pun melesat ke kancah Internasional. Inggris, Rusia, Afrika Selatan, Perancis, dan Korea adalah beberapa negara yang menjadi target pasar Sabbatha.

Lulusan Universitas Sorbonne IX Paris ini mengungkapkan bahwa konsistensi, kreativitas, inovasi, kualitas, serta keunikan merupakan komponen terpenting yang membangun nilai tambah pada karyakaryanya di Sabbatha.
Ketimbang fashion designer, Sabbatha lebih senang dianggap sebagai seorang seniman. Ya, bagi pria yang berdomisili di daerah Pantai Berawa Canggu ini apa yang dikerjakannya semata-mata sebagai sebuah ekspresi berkesenian dan passion-nya dalam bidang desain. Darah seni yang dimilikinya pun diakuinya berasal dari Ayahanda yang notabene seorang karikaturnis. Dari sejak kecil, Sabbatha telah mampu menunjukan kemampuan free hand-nya dalam menggambar.

Ditemui oleh M&I Magazine di showroom eksklusif-nya di bilangan Seminyak, Sabbatha pun menceritakan pengalamannya dalam membangun brand aksesoris fashion yang mampu menembus pasar Internasional. Pertanyaan-pertanyaan seputar konsep Sabbatha, proses kreatif, serta inovasi-inovasi barunya terangkum dalam interview berikut!

Ide Sabbatha ini sendiri hadir untuk menarik dan menambahkan kreator di bidang fashion accessories di Indonesia.

Ceritakan bagaimana awal mula Anda membangun brand Sabbatha?

Saya memulai semua ini, ketika saya memutuskan untuk pindah ke Bali pada tahun 2001 lalu. Saat itu saya baru usai menuntaskan pendidikan saya di Perancis. Sebenarnya kuliah yang saya ambil adalah ekonomi. Tapi di saat yang bersamaan di Perancis saya juga sempat mengambil kuliah desain interior. Jadi basic pendidikan formal untuk desain aksesoris fashion itu sama sekali saya enggak punya. Mungkin karena saya belajarnya otodidak ditambah dengan sedikit background di arsitektur interior itu yang membantu saya untuk membuat desain aksesoris fashion. Karena ketika saya membuat desain sebuah tas seperti itu, garis-garisnya kelihatan. Di sanalah sudah tampak bahwa saya punya basis untuk menggambar ini, karena secara teknis di dalam desain tidak akan lepas dari ukuran dan garis. Sebelum membuat Sabbatha ini, saya sih awalnya kerja di sebuah perusahaan advertising di Bali. Di situ saya kurang lebih 3 tahun berkarir. Saat itu yang saya pikirkan bagaimana caranya saya tinggal di Bali, karena saya memang cinta dengan pulau ini.

Belum ada pikiran untuk membuka toko atau pun membangun brand Sabbatha. Nah setelah lama kerja dengan orang, akhirnya saya berpikir untuk membuat usaha sendiri, yakni dengan mendesain dan memproduksi sendiri. Jujur semua ini tanpa terencana. Saya benar-benar random waktu itu. Cuma memikirkan tentang apa yang bisa saya kerjakan, agar bisa membuat lapangan kerja sendiri. Pada tahun 2005, saya mulai memperkenalkan showroom Sabbatha ini. Sebenarnya sih secara resmi dibuka dan baru mulai dikenal masyarakat itu pada pertengahan 2006 silam.

Sebenarnya konsep dan visi apa yang ingin Anda tawarkan lewat Sabbatha?

Ide Sabbatha ini sendiri hadir untuk menarik dan menambahkan kreator di bidang fashion accessories di Indonesia. Secara konsep, saya ingin menggali dan meng-highlight warisan fashion Indonesia. Saya lihat banyak sekali teknik-teknik fashion yang merupakan warisan negeri kita sendiri sudah banyak dipakai oleh perancang di luar negeri.

Sementara orang-orang kita malah tidak banyak memakainya. Sebut saja teknik kepang atau pengerjaan dengan kulit. Anehnya, kenapa tidak ada dari kita yang sering memunculkan hal-hal tersebut. Di sini, saya berusaha membuat bagaimana caranya menempatkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungan dalam mode.

Apa yang unik dari Sabbatha?

Kalau saya bilang sih bisa dilihat dari segi kreativitasnya. Secara teknis, mungkin saya punya sesuatu yang berbeda dari desain kebanyakan. Saya berani memadu padankan berbagai warna dan bahan-bahan ketika saya membuat sebuah desain. Jujur, desain Sabbatha ini sudah banyak di-copy di luaran sana. Ya, sayang sekali dan sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Sabbatha ini punya ciri khas pada desain tasnya, di mana merupakan tas pertama yang mampu memadukan bebatuan di dalam desainnya. Di awal-awal saya pernah menggunakan beads dari kayu dan kaca sebagai detilnya, tapi sekarang sudah cenderung ke bebatuan. Kalau dulu elemennya pakai brush atau kuningan, sekarang pakai perak atau emas. Jadi itu evolusinya seperti itu. Kalau sekarang pakai perak atau emas kan bahannya jadi lebih ringan, meskipun harganya lebih tinggi. Saya juga melakukan eksperimentasi pada material kulit. Entah itu kulitnya saya batik atau warnai dan bermain pada bentuk desainnya. Saya suka menggunakan material kulit, karena untuk dijadikan tas, durasi pemakaiannya bisa lebih lama. Sekarang saya mencoba untuk membuat sesuatu yang lebih simpel dan bisa digunakan oleh pria dan wanita (unisex).

Jadi brand Sabbatha memang diarahkan untuk spesialisasi produk tas?

Sebenarnya saya fokus di tas, sementara untuk pernak-pernik lainnya hanya sebagai tambahannya saja. Kalau mau ditengok dari evolusi teknik pembuatan fashion accessories Sabbatha memang dominannya adalah tas.

Berapa banyak tas yang diproduksi setiap bulannya?

Kalau sekarang saya bikinnya limited edition saja dan itu paling banyak hanya tiga item untuk masing-masing desainnya. Per bulannya saya bisa memproduksi 50 tas, malah dulu di awal-awal bisa sampai 200 tas. Dulu dari hasil produksi ratusan item itulah, saya akhirnya bisa membangun toko Sabbatha ini. Toko ini dibuka, karena dulu saya punya banyak order dari Yunani dan itu partainya besar. Toko ini dibuka untuk memikat tamu-tamu lain yang bukan sebagai wholesale saja. Walaupun sekarang juga masih mengerjakan wholesale tapi saya batasin. Sekarang tergantung dari pasarannya saja. Kalau pasar di Bali sekarang lagi lesu ya, jadi saya terpaksa perlambat produksinya.

Boleh tahu tentang sistem bisnis Sabbatha?

Sabbatha menggunakan sistem bisnis terputus. Jadi jika ada yang order saya bikinkan, mereka bayar, saya kirim. Untuk saat ini saya masih memegang beberapa agen di Rusia, Inggris, Afrika Selatan, Perancis, dan Korea. Itu pun ekspornya tidak dalam partai yang besar, masih limited edition saja. Saya memang sengaja tidak menggunakan sistem konsinyasi, padahal banyak yang menawarkan saya dengan sistem ini. Tapi saya bilang enggak bisa, karena barang saya belum cukup untuk itu. Jadi daripada saya enggak bisa kontrol dan terus enggak ada barang, kan susah nanti. Apalagi saya kerjanya sendiri.

Apakah ada produk atau inovasi lain yang Anda kerjakan lewat Sabbatha?

Saya bikin sebuah artwork. Bukan lukisan sih, tapi kalau dianggap seperti itu bisa saja, karena memang proses pembuatanya berawal dari gambar terlebih dahulu. Uniknya, ini dibentuk dari origami. Jadi saya mesti belajar dulu bagaimana cara melipat origami dan sebagainya. Inilah inovasi yang bisa saya lakukan. Idenya muncul begitu saja. Saya mulai membuatnya sejak April 2014 lalu. Responnya cukup bagus. Belum sampai 10 pieces yang saya bikin, tapi sejauh ini sudah terjual 6 pieces. Satu artwork bisa saya kerjakan selama 1 bulan, karena saya bikinnya sendiri, enggak ada yang bantu.

Apa tantangan terbesar bagi Anda, ketika berkecimpung di dunia kreatif seperti ini?

Tantangannya, kalau secara pribadi sih sebenarnya enggak ada. Kalau saya mau dibilang ambisius sih ambisius, inovatif sih inovatif. Cuma saya itu orangnya enggak suka dikejar atau ngejar. Enggak ngoyo kalau orang Jawa bilang. Kalau saya dikejar target, karena ada proyek ya saya kejar. Itu tidak masalah, itu hal biasa. Tantangan sesungguhnya sebagai orang kreatif adalah bagaimana membuat sesuatu yang baru dan inovatif, di mana orang lain belum membuatnya.

Apa yang membuat Anda optimis membangun Sabbatha?

Saya sih sebenarnya enggak pernah optimis. Dalam pikiran saya ini hanyalah bagaimana caranya bisa berkreasi. Itu saja. Jadi kalau responnya tiba-tiba dari masyarakat itu bagus, saya puji syukur ya. Kalau enggak bagus, mungkin saja saya enggak bisa seperti sekarang. Tapi kenyataannya, saya masih bisa eksis dan berkarya. Berarti di sini kan respon dari masyarakat bagus tentang apa yang saya tawarkan dari kreativitas itu sendiri. Dari segi kreativitas, ada konsistensi dan inovasi. Terus dari segi kualitas bisa dipegang.

Untuk customer, Indonesia lumayan dominan, bahkan persentasenya bisa naik 50-100% sekarang, karena spending powernya lebih bagus.”

Bagaimana caranya menjaga konsistensi dari kualitas produk Anda?

Saya harus terjun sendiri. Saya enggak pernah membiarkan orang lain sendiri turun tangan tanpa kontrol dari saya. Saya harus liat sendiri, karena saya maunya konsisten terus. Kalau kita menawarkan suatu barang yang berkualitas dan konsisten, maka kita akan bisa bertahan. Apabila kita hanya bisa membuat sesuatu yang bersifat sementara serta tidak konsisten dari segi kualitas dan kreativitas enggak akan bertahan lama. Dan saya cukup bangga, saya orang Indonesia dan ini produk Indonesia. Jadi enggak ada yang dibuat di luar negeri. Semuanya dikerjakan di Bali dan material-materialnya berasal dari sini dan Jawa.

Apa kendala terbesar yang pernah Anda temui sepanjang hampir satu dekade membangun Sabbatha?

Kalau dari produksi bagi saya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena saya punya produksi yang bagus. Cuma di sini yang saya terakhir struggle adalah dari segi pemasaran. Bali yang sekarang sudah berbeda dengan Bali di dua atau tiga tahun yang lalu. Apalagi sekarang kan bali itu mainnya daerah. Kalau daerahnya banyak hotel dan restoran mungkin jualan saya bisa banyak dan dengan harga tinggi, karena ini kan termasuk barang-barang mewah. Contohnya di Seminyak kan dulu banyak turis yang walk in, tapi sekarang mereka malah lebih suka ke Petitenget, karena di sana banyak hotel, restoran, dan lain-lain. Sementara di Seminyak kan jarang ada akomodasi.

Mana yang lebih dominan, customer domestik atau Internasional?

Untuk customer, Indonesia lumayan dominan, bahkan persentasenya bisa naik 50-100% sekarang, karena spending powernya lebih bagus.

Apa harapan-harapan Anda untuk Sabbatha ke depan atau mungkin ada project baru yang akan Anda kerjakan?

Saya ini mau ditarik oleh Mahakarya, sebuah brand holding company yang mengurus brand semacam Iwan Tirta Private Collection, Arbor and Troy, dan Sabbatha akan masuk sebagai mitra di sana. Kalau saya nanti menjadi mitra Mahakarya, mungkin saya masih akan fokus memproduksi fashion accessories. Tapi sebagai seorang kreatif, saya juga punya ide-ide lain untuk membuat sesuatu yg lebih simpel. Sebenarnya dari dulu saya juga ingin membuat produk parfum, tapi belum kesampaian karena harus belajar dulu. Belajarnya itu enggak murah lho, karena mesti ke Eropa dan butuh waktu yang lama untuk mempelajarinya.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri