sambelbulusan

Sambel Bulusan – The Hottest Local Sambel from Bali

Siapa sangka hanya berbekal inspirasi sebuah cabai, Yayak Eko Cahyanto berinovasi dalam menciptakan sebuah produk kuliner yang mudah dicintai oleh masyarakat Indonesia, apalagi bagi mereka yang maniak makanan bercita rasa pedas. Sambel Bususan hadir sebagai sebuah alternatif bagi para pecinta pedas untuk menikmati sambel dengan konsep yang praktis dan efisien. Konsepnya sambel botolan yang bisa dibawa kemana-mana dan dinikmati langsung sebagai pendamping nasi dan lauk pauk. Bahkan sambel ini juga bisa dijadikan bumbu masak bagi mereka yang enggan repot meracik bumbu sambel sendiri.

Dengan mengambil nama panggilan istrinya, Sambel Bususan pun menjadi sebuah brand sambel baru yang dikerjakan secara industri rumahan. Berbeda dengan sambel-sambel pabrikan yang kaya bahan pengawet, sambel Bususan justru hadir dengan sisi alamiahnya beserta varian yang menggigit lidah. Yayak, begitu panggilan ayah muda kelahiran 20 Oktober 1976 ini begitu optimis dengan bisnis baru yang ia lakoni. Saking menjanjikannya, Yayak pun berniat resign dari tempat kerjanya semula di sebuah hotel bintang lima di Bali.
Yayak yang memiliki latar belakang pendidikan desain grafis di ISI Denpasar ini malah lebih sering berkutat dengan seni desain dan ilustrasi ketimbang bisnis. Bahkan ia telah memiliki posisi strategis di hotel tempatnya bekerja sebagai seorang desain grafis yang ulung. Yayak juga merangkap sebagai seorang freelance dalam bidang yang sering dianggapnya sebagai sebuah passion dan hobi sejatinya tersebut. Kliennya pun tak tanggung-tanggung, berasal dari perusahaan ternama.

Sayangnya, Yayak telah memantapkan hatinya untuk keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk fokus berwirausaha dan akan meninggalkan pekerjaan tetapnya yang telah memberikan banyak pundi-pundi rupiah.
Bersama istrinya Yeni Nur Susanti dan adiknya Ari Febriyanto, Yayak optimis bisa mengibarkan nama sambel Bususan sebagai produk kuliner yang diburu oleh masyarakat lokal. Wah, sebegitu menjanjikannyakah prospek dari sebuah usaha sambel botolan home made ini? Putra Adnyana, reporter Money&I mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Yayak. Di sini, Ia akan membagi-bagikan resep sukses dan latar belakang dari usaha Sambel Bususan yang kini telah memiliki ‘nama’ dalam industri kuliner lokal.

Bagaimana awalnya bisnis Sambel Bususan ini berdiri?
Awalnya saya dapet invitation dari kementrian perindustrian. Kenapa dapet invitation ini? Mungkin mereka tahu alamat email saya dari TDA (Tangan Di Atas), sebuah komunitas wirausaha yang saya ikuti. Mereka bilang ada kuota kosong untuk domain (.co.id). Jujur saya belum pernah bisnis kuliner, karena basic saya sendiri adalah designer grafis. Nah, saya bingung harus diapakan domain ini kan lumayan gratis. Yang dipikiran saya waktu itu hanya bisnis clothing. Soalnya saya dulu pernah mengelola usaha ini, namun mesti tersendat di jalan lantaran biayanya yang sangat besar.

Terus ide untuk membuat sambel itu tercetus?
Terus saya mulai berpikir keras mencari ide usaha yang mudah dikerjakan, namun modalnya juga kecil. Momen itu pun akhirnya tiba. Itu terjadi ketika saya menanyakan kepada istri saya “Malam ini mau makan apa? Gimana kalo kita makan sambel?” Ahaa…ini bisa jadi ide yang brilian, langsung saja syaraf-syaraf dalam otak saya spontan merespon “Kenapa kita nggak bikin sambel saja ya?” Kemudian saya segera telusuri di google. Akhirnya saya menemukan fakta kalau di Indonesia, pebisnis sambel itu sendiri masih jarang. Paling pemainnya hanya Indofood dan ABC. Tentu konsumen sendiri pasti sudah jenuh. Marketnya sudah sangat jelas. Rata-rata orang Indonesia memang doyan pedas kan! Kalau makan tanpa sambel, pasti terkadang nggak afdol. Apalagi nggak semua orang Indonesia itu pintar bikin sambel.Hal ini juga yang membuat saya tercambuk untuk segera merealisasikan usaha sambel ini. Konsep sambel yang kami hadirkan pun sangat cocok bagi mereka yang suka dengan sesuatu yang praktis. Kalau lagi malas masak, bisa pakai sambel Bususan. Atau ini juga bisa dijadikan sebagai bumbu masak lho!

Bagaimana dengan kompetitor lokal? Apa yang membuat produk sambel Anda begitu spesial?
Kompetitor untuk produk sambel seperti yang kami buat sejauh ini belum ada untuk kelas home made sendiri. Kalau pun ada yang bikin, paling masih di jual secara konvensional di warung-warung. Kebanyakan memang yang masih pabrikan seperti Indofood dan ABC itu. Agar beda dengan produk-produk sambel sekelas Indofood dan ABC, sambel kami pun sengaja di buat tanpa pengawet. Orang-orang Bali biasanya suka sambel matah kan. Nah kita mikir kalau sambel matah kan hanya bertahan 1-2 hari saja. Bagaimana kalau saya buat versi yang matang saja.

Bagaimana Anda melakukan uji pasar terhadap produk Anda?
Kebetulan saya ada project desain di Ayana Hotel. Di sana kan ada kantin yang biasanya kalau siang dipenuhi oleh karyawan yang sedang menikmati makan siangnya. Lantas saya datang menghampiri satu persatu meja mereka dan memberikan mereka beberapa botol sambel hasil kreasi saya. Dari sana, saya minta komen dari mereka apa kelemahan sambel saya. Mereka bilang kurang asin, kurang gini kurang gitu. Nah saya tampung komentar mereka. Kita bikin lagi yang baru sesuai dengan saran mereka, kemudian kembali saya bagikan ke mereka untuk mengetes lagi rasanya apakah sudah pas atau belum.

Cara mempromosikannya?
Pas promo kita bukannya bagi flyer ke publik, tapi bagi-bagi cabe yang ditempelin stiker sambel Bususan. Oh ya sistem marketing kami juga menerapkan prinsip bagaimana produk kami tanpa diiklanin pun tetap menjadi incaran customer. Untuk kami tidak membuka warung atau toko. Kami malah mengoptimalkan keberadaan bandar (re-sales) kami. Dari bandar itu sendiri akan ada pengedarnya lagi. Dengan kuatnya di situ, kami nggak takut untuk kehilangan customer. Simpelnya, bandar itu yang belanja banyak produk-produk kita, lalu mereka punya pengedar tersendiri yang langsung nanti berhadapan dengan pembeli lainnya. Dengan sistem ini saya rasa cukup efektif. Media promosi kami juga lewat twitter dan facebook. Di twitter itu antusiasmenya lumayan tinggi. Kayak pas liburan kemarin, ada beberapa yang bertanya di mana bisa beli sambel Bususan. Kami bilang hanya di jual via online saja. Kebetulan yang bersangkutan tidak bisa datang ke rumah untuk membeli. Jadi saya pun bertindak sebagai kurir yang mengantarkan pesanan mereka. Tapi pesanan sambelnya harus minimal 6. Saya sempat kaget kebanyakan yang beli memang orang Jakarta yang nggak tanggung-tanggung pesannya bisa lebih dari 20 botol.

Target konsumen Anda?
Ya orang lokal lah! Sejauh ini kebanyakan customer kami sendiri orang-orang di luar Bali, seperti Jakarta dan Bandung. Kalau di Bali sendiri, customer-nya masih bersifat institusi. Jadi kami memperkenalkan beberapa sampelnya ke institusi tertentu, ketika mereka tertarik pasti akan langsung memesan.

Kok tidak mendirikan outlet atau toko khusus Sambel Bususan?
Memang sejauh ini kami belum buka outlet, tapi rencana untuk kesana sih ada. Soalnya saya masih mikir usaha dengan modal kecil dan untung besar. Kalau buka outlet kan harus sewa bangunan lagi dan itu sejauh pantauan saya masih mahal untuk sewa. Bagi saya, memproses seluruh produk ini di rumah dan memperjualbelikannya via online tetap menjadi cara yang lebih efektif. Tidak banyak keluar duit kan jadinya! Rencananya outlet yang akan kami bikin ini hanya sekedar brand awareness saja bahwa di tempat kami ada yang jualan sambel seperti Sambel Bususan ini.

Bagaimana proses produksinya?
Proses produksinya dikerjakan di rumah saya. Timnya ada tiga orang yakni saya, istri saya dan adik saya. Kalau misalnya kewalahan, biasanya saya minta tolong tenaga dari tetangga sekitar. Kami bisa memproduksi 10 kg sambel yang nantinya jadi sekitar 110 botol. Kami belum berani produksi banyak kalau belum ada permintaan yang banyak pula. Produksi tertinggi paling baru sekitar 20 kg. Target kita ke depan sih bagaimana bisa memproduksi 300 botol per harinya. Sekaligus sebagai motivasi ya!

Ada varian apa saja dari produk Sambel Bususan?
Ada lima varian sambel Bususan yakni sambel terasi, sambel teri, sambel udang, sambel bawang, dan sambel pete. Resepnya sih kita coba-coba sendiri. Awalnya memang dari konsep sambel Bali yang coba kami matengin, karena nggak mungkin kita jualan sambel matah apalagi kita nggak pake pengawet. Oleh karena itu kami berani bilang kalau Sambel Bususan itu adalah sambel khas Bali. Sambel ini bisa bertahan rata-rata 10 hari. Ya pengawet alaminya berasal dari minyak goreng di dalamnya itu. Asalkan sendok yang digunakan saat mengambil sambel tidak digunakan bergantian dengan orang lain. Untuk menghindari sambel cepat basi, saya juga membuat SOP (standard operating procedure) agar tetap mempertahankan cita rasa sambelnya. Ketakutannya kan seperti ini, ketika sambel ini hanya dikerjakan oleh satu orang tentu kita akan bergantung dengan satu orang itu saja. Ketika kita kehilangan orang itu, tentu akan membuat kita panik. Kalau ada SOP kan jadinya lebih praktis, semua orang bisa mengolah sambel sesuai dengan yang kita takarkan.

Kalau boleh tahu, bahan cabe yang digunakan berasal dari mana?
Kita menggunakan cabe dari Klungkung. Pertimbangannya karena cabe dari sana cenderung punya daya tahan yang lebih lama dan tentu lebih pedas. Jujur, pas mau survey cabe yang pedas, kita bukannya bertanya ke dagang cabe melainkan dagang rujak.

Modal awal dan omzetnya berapa?
Modal awal kecil cuma Rp 300.000. Omzet rata-rata 100 botol itu sekitar 3 Juta. Harga per botolnya sih Rp 20.000, tapi kalau beli di bandar atau pengedar bisa lebih murah sekitar Rp 17.000. Kenapa lebih murah? Ini agar tidak mematikan sisem re-seller ini. Saya misalnya jual 13 ribu ke Bandar. Lalu Bandar menjual paling sekitar Rp 15.000 ke pengedar lainnya. Sementara itu pengedar bisa menjual sambel ini ke customer sekitar 17 ribu.

Harapan ke depan?
Saya akan tetap fokus menggarap usaha ini. Target saya bisa jual 300 botol /hari, punya 5 outlet di pusat oleh oleh dan airport, punya 50 bandar aktif dan harapan terakhirnya punya pabrik padat karya dengan ratusan karyawan. Ya semoga impian itu bisa tercapai. Saya sih optimis bisnis ini sangat menjanjikan karena marketnya jelas dan keuntungannya pun sudah mulai dirasakan meski usahanya sendiri belum menginjak setahun.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri