DSC_0066

Sari Rani Hermanto – Menjadi Ratu Pie Susu di Bali

Empat wanita tampak sibuk mencetak adonan-adonan berwarna cream hingga menyerupai bentuk piringpiring mini berdiameter 5 cm dengan tekstur lipatan khas di pinggirnya. Mereka menyebut bentuk adonan itu sebagai “kulit” Pie Susu. Sementara di sudut lain, beberapa wanita juga tengah serius menuangkan adonan berwarna kuning telur yang mereka sebut sebagai “isian” Pie Susu ke dalam cetakan kulit tadi.

Di antara wanita-wanita berseragam celemek serta ikat bandana itu, juga terlihat seorang Sari Rani Hermanto sedang mengangkat seloyang kue-kue pie susu yang baru saja matang dari oven. Senyum mengembang pun muncul dari wajah ayunya. Begitulah suasana di dapur Ratu Pie Susu milik Sari Rani Hermanto. Sebuah usaha industri rumahan yang dikerjakannnya sejak awal 2014 lalu. Meski baru berjalan satu setengah tahun, namun brand Ratu Pie Susu telah bergema cukup kencang di telinga para penikmat pie susu di Nusantara. Bahkan tak tanggung-tanggung, penggemarnya pun berasal dari kalangan selebritas ibukota. Wanita yang akrab disapa Rani ini tak pernah menyangka bisnis yang berawal dari keisengan tersebut mampu menuai respon positif secara siginifikan.

Rani mengaku bahwa ide untuk membuat produk Ratu Pie Susu tersebut termotivasi dari resep milik neneknya. “Saya belajar membuat kue pie susu dari nenek saya. Nenek saya itu seorang penjual kue rumahan di Desa Baturiti. Pie Susu buatannya punya cita rasa yang khas” ungkap Rani. Berbekal resep dan teknik membuat kue dari neneknya itulah, wanita berambut pendek ini berusaha untuk mewujudkan pie susu buatannya sendiri. Bahkan ia mencoba memodifikasi resep tersebut, agar terkesan lebih unik dan modern. Lantas, munculah pie susu rasa keju dan cokelat kreasinya.

“Ternyata enggak gampang untuk buat pie susu. Saya butuh satu bulan untuk proses trial & error-nya. Saat itu, saya dibantu oleh kawan saya, Listya. Saya tawarkan terus ke teman-teman dan mengumpulkan saran mereka, hingga akhirnya saya mendapatkan rasa yang ideal,” terang wanita yang berdomisili di bilangan Bypass Ngurah Rai Sanur ini.

Dalam pembuatan adonan pie susu tersebut, Rani mengutamakan penggunaan bahan-bahan organik yang segar serta bebas dari pengawet. Bahkan Ibu dari dua anak ini membeli telur langsung dari sebuah peternakan di Desa Baturiti. Rani benarbenar ingin menciptakan rasa susu yang fresh dan tanpa pemanis buatan. Alhasil itu juga yang menjadi kunci sukses dalam penciptaan rasa pie susunya.

“Saya ingin pie susu ini aman dikonsumsi anak-anak serta nikmat dimakan berkalikali, enggak gampang bikin seret,” terangnya.  Awalnya dalam dua bulan pertama, produksi Ratu Pie Susu hanya dalam hitungan ratusan saja. Namun, kini sebanyak 8 ribu hingga 10 ribu buah pie susu atau hampir seribu kotak setiap harinya mampu diproduksi oleh Rani. Setiap satu kotak berisikan 9 buah pie susu, di mana harga per kotaknya untuk rasa original sekitar Rp 30.000. Sementara untuk pie susu spesial yang terdiri dari rasa original, cokelat, dan keju dihargai sekitar Rp 35.000 per kotak. Di dua bulan pertama usahanya, Rani hanya dibantu oleh dua karyawan. Namun, kini Rani telah merekrut 15 tenaga kerja tetap.

 

Dalam bahasa India, Rani berarti Ratu. Saya ingin pie susu yang saya buat jadi Ratu-nya pie susu di Bali.

“Tergantung kalau sudah dekat season liburan, orderan biasanya membludak dan kami biasanya mengandalkan tenagatenaga freelance lagi. Beberapanya malah tetangga di sekitar rumah saya. Rasanya senang bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang di sekitar,” ujarnya. Tidak hanya berkreasi lewat rasa, Rani juga berimprovisasi pada desain kemasan pie susu. Rani merancang sendiri kotak kemasan pie susu-nya dengan desain yang sangat pop, catchy, dan colorful. Dengan menambahkan slogan “Everyone Loves Pie” membuat brand Ratu Pie Susu miliknya tampil beda dibandingkan dengan produk pie susu lainnya di pasaran. Demi menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan, pie susunya juga sudah mengantongi sertifikat Halal dan izin Departemen Kesehatan.

 

Ratu Pie Susu sangat terbantu dari rekomendasi mulut ke mulut. Saya awalnya hanya tawarkan ke teman-teman saya, tapi akhirnya bisa sampai ke tangan sejumlah artis.

 

Dari Mode Ke Pie Susu

Wanita kelahiran 29 April 1978 ini sama sekali tidak memiliki latarbelakang di bidang kuliner. Malah secara akademis, ia memilih menimba ilmu di bidang fashion design. Sebelum merambah bisnis pie susu, Lulusan Lasalle International Design School ini bahkan sudah memiliki bisnis salon kecantikan dengan brand K-Style. Ia juga sering terlibat dalam proyek FTV, di mana secara khusus menangani desaindesain kostum untuk para pemainnya. Selain itu ia juga menangani fashion untuk pemotretan model hingga pernikahan. Terjunnya Rani ke dunia kuliner bukan semata-mata dorongan bisnis, tetapi juga merupakan salah satu panggilan passion-nya. Daya kreativitas di dalam dirinyalah yang selalu menuntun Rani untuk bisa mengeksplor dan berkreasi dengan segala hal di sekitarnya. Bekal networking yang diperolehnya selama berkecimpung di dunia mode dan hiburan juga turut membantu membesarkan usaha Ratu Pie Susu miliknya.

“Ratu Pie Susu sangat terbantu dari rekomendasi mulut ke mulut. Saya awalnya hanya tawarkan ke teman-teman saya, tapi akhirnya bisa sampai ke tangan sejumlah artis, seperti Katon Bagaskara, Femmy Permatasari, Tamara Bleszynski, dll. Mereka foto pie susu saya, lalu diunggah ke media sosial. Itu yang bikin brand ini heboh di Jakarta, bahkan sampai pernah diliput program infotainment TV,” papar wanita berkulit putih ini.

Pie Susu Ratu hanya dijual di area Bandara Ngurah Rai Bali. Rani tidak menjual produk pie susu-nya di toko-toko oleh-oleh lainnya di luar sana. Bahkan ia tidak membuka pemesanan lewat online. Rani sengaja menjaga eksklusivitas brand Ratu dengan menempatkan bandara sebagai spot utama pembelian pie susu-nya. Strategi itu pun berhasil, Ratu Pie Susu kian diburu. Malah sering sold out sebelum waktu tutup outletnya.

 

Intinya kerjakanlah semuanya dengan passion dan tetap tersenyum. 

Rani memperkirakan satu pelanggan paling banyak membeli mulai dari 10 hingga 30 kotak pie susu-nya di bandara. “Pernah kita batasi pembelian mereka untuk menjaga ketersediaan stock, karena pie susu kami dibuat secara homemade, jadi enggak bisa membuat melebihi kapasitas produksi kami sekarang,” imbuhnya. Saking banyaknya permintaan, Rani pernah harus mengantarkan ratusan kotak pie susunya bolak-balik lewat tol ke bandara lantaran stock-nya yang cepat menipis.

Meski dunia kuliner sangat jauh berseberangan dengan dunia fashion, namun Rani mampu melakoni usaha barunya secara profesional dan penuh dedikasi. Setiap harinya dari pukul 4 dini hari, Rani pasti sudah bersiap di dapur untuk meracik adonan, agar ketika para karyawannya yang datang pukul 7.30 pagi bisa mulai untuk mencetaknya.

“Meski awalnya sempat pesimis dan hampir membuat wajah saya terbakar oven, tapi setelah respon yang positif membuat saya bersemangat menekuni usaha ini. Intinya, kerjakanlah semuanya dengan passion dan tetap tersenyum. Kalau dikerjakan dengan rasa pasti hasil pekerjaan kita juga tidak akan maksimal,” jelasnya.

Kesuksesan brand Ratu Pie Susu ternyata menarik antusiasme perusahaan lain untuk bermitra dengan Rani. Ia pun sempat diminta untuk membantu produksi pie susu dengan merek perusahaan mitranya tersebut.  Rani juga membuka outlet resmi Ratu Pie Susu di bilangan Bypass Ngurah Rai Sanur, yang berada satu lokasi dengan dapur utama mereka. Dengar-dengar, outlet tersebut akan menjual produk baru Ratu yang berbeda dengan outlet bandara. “Saya juga ingin eksperimen lagi dengan mengangkat kue-kue khas Bali yang belum banyak orang luar tahu. Ini saya lagi caricari,” pungkasnya mengakhiri wawancara.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri