sekolah untuk kaum miskin

Sekolah untuk Kaum Miskin

Saat ini jumlah orang miskin di dunia masih sangat besar. Ada 1,39 miliar orang (25,1%) dari jumlah penduduk dunia yang mencapai 7 miliar (data 2011). Kemiskinan hampir ada di seluruh belahan dunia. Sebagian besar ada di wilayah benua Afrika. Negara Kongo, Rwanda, Zimbabwe, Liberia, populasi penduduk miskinnya mencapai 90%. PDB nya sekitar $ 350 per tahun.

Di negara maju pun, kemiskinan merupakan penyakit yang sulit untuk diberantas. Amerika Serikat ada 46,2 juta (2010) penduduk miskin. Sementara kita hanya mendengar betapa besar dan makmurnya negara Amerika Serikat. Ternyata ada satu di antara enam populasi di Amerika Serikat, penduduknya menyandang status hidup di bawah garis kemiskinan. Yang membedakan dengan negara lain adalah parameternya. Definisi kemiskinan AS adalah mereka yang memperoleh pendapatan perkapita $22.314 per tahun atau kurang untuk keluarga yang beranggotakan 4 orang daan $11.139 untuk lajang.

Indonesia …?

Jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,1 juta (12,96% dari jumlah penduduk Indonesia 242 juta). Jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemisikinan turun setiap tahunnya. Namun masih cukup besar jumlahnya. Lebih besar dari seluruh penduduk Singapura yang mencapai 4 juta orang. Hampir sama dengan seluruh penduduk Malaysia atau Australia yang mencapai 30 juta orang.

Penghasilan mereka di bawah Rp 300.000,- setiap bulannya. Harus cukup untuk menghidupi sebuah keluarga. Jangan membayangkan mereka pergi ke mall walaupun sekadar jalan-jalan. Pergi pelesiran melihat keindahan daerah lain. Tinggal di rumah yang bagus. Bisa bersekolah layaknya orang lain. Yang dipikirkan dan dilakukan hanyalah satu hal. Untuk Makan. Apa yang bisa dimakan untuk besok. Bagaimana mencarinya. Mereka berjuang agar keluarganya bisa bertahan hidup. Hanya itu, bukan untuk hal lain.

Kecil sekali mereka menikmati subsidi dari pemerintah. Hidup mereka dalam gubuk atau rumah tidak permanen. Untuk penerangan sebagian besar menggunakan lampu teplok dari minyak tanah atau minta sambungan listrik satu lampu dari tetangga. Mereka tidak mempunyai kendaraan bermotor, praktis tidak pernah menikmati subsidi BBM. Mereka tidak boleh sakit, kalau pun sakit mereka jarang sekali berobat. Mengapa? Mereka tidak takut akan sakit. Yang ditakutkan berhadapan dengan administrasi pembayaran. Tidak mempunyai biaya untuk berobat. Anak-anak mereka jarang yang mempunyai pendidikan tinggi. Karena tuntutan keluarga, mereka harus bekerja. Sebagian besar pendapatan mereka dihabiskan untuk makan. Untuk bertahan hidup.

Pendidikan merupakan pisau untuk memutus rantai kemiskinan

Sekolah bukan satu-satunya jalan untuk meraih keberhasilan. Banyak orang yang tidak sekolah tinggi namun bisa menjadi berhasil. Bukan berarti sekolah tidak penting. Yang utama adalah Belajar. Belajar bisa melalui pendidikan formal sekolah atau melalui pengalaman dengan melakukan (bekerja). Hambatan terbesar untuk belajar adalah kemisikinan. Karena sebagian besar waktu mereka tidak digunakan untuk belajar namun untuk mencari makan.

Jalur cepat belajar harus melalui pendidikan sekolah. Banyak masyarakat miskin yang pintar dan mau bersekolah. Mereka takut akan biaya tinggi. Mereka tidak tahu wajib belajar 12 tahun (sampai SMU) dengan gratis. Mereka lebih memilih untuk bekerja daripada sekolah. Mereka terpaksa bekerja hanya untuk bertahan hidup. Mereka tidak mempunyai keterampilan yang tinggi. Kalau pun bekerja upahnya kecil. Selama siklus keluarganya seperti ini, maka mereka akan tetap hidup dalam lingkaran kemiskinan. Ini yang harus diputus. Pendidikan merupakan pisau tajam untuk memutus rantai kemiskinan.

Pendidikan gratis sampai perguruan tinggi. Berilah mereka beasiswa. Jangan hanya memilih yang pandai saja, tetapi juga yang kurang pandai. Kalau tidak, siapa yang akan membiayai pendidikan orang miskin lagi kurang pandai. Realitas di lapangan, beasiswa hanya diberikan kepada yang pandai. Sehingga masih banyak rantai kemiskinan yang belum terputus.

Butuh waktu lama untuk menurunkan angka kemiskinan. Namun bisa dilakukan akselerasi percepatan untuk menurunkannya. Caranya? Kampanye Beasiswa Berantai. Setiap orang yang memperoleh beasiswa diwajibkan atau berjanji untuk memberikan biasiswa kepada satu orang setelah mereka bekerja. Tidak semua orang akan mengikuti. Minimal mereka mempunyai tanggung jawab moral.

Seperti kisah inspiratif dari seorang pemulung bernama Wahyu. Dengan julukan “Pemulung Ganteng”, Wahyu dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Wahyu menerapkan sistem secara berantai. Pendidikannya/kuliahnya dibiayai orang lain dan dia sendiri juga membiayai pendidikan orang lain. Ini akan berjalan seperti bola salju, akan bertambah dan berlipat jumlahnya. Dengan demikian angka kemiskinan dengan cepat akan turun.

James Tooley melalui bukunya “Sekolah untuk Kaum Miskin” memberi kita cara-cara bagaimana melepas kemiskinan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri