Lane-MartinScorsesesSilence-1200

Silence

Kekuasaan, cinta, harta dan wanita, daftar panjang film-film Martin Scorsese, dari Alice Doesn’t Live Here Anymore sampai The Wolf of Wall Street, berisi banyak cerita berbeda tentang obesesi manusia mencapai tujuan di kehidupan fana mereka. Tetapi Silence adalah kasus lain, meski masih ada obsesi di sana, ia menjadi sepersonal The Temptation of The Christ, ketika mengangkat tema religius menjadi sebuah pengalaman sinematik yang penuh dengan perenungan yang dalam.

Diadaptasi dari novel milik Shusaku Endo berjudul sama, Scoresese dan rekan penulisnya Jay Cocks membawa  kita kembali ke Jepang abad ke-17, untuk menjadi saksi perjalanan dua pastor Portugis, Sebastio Rodrigues (Andrew Garfield) dan Francisco Garupe (Adam Driver), mencari mentornya, Ferreira (Liam Neeson) yang menghilang setelah melakukan misi misionaris di Nagasaki, Jepang. Kabar burung menyebutkan bahwa Ferreira telah murtad dan meninggalkan iman Kristianinya, tetapi kedua muridnya tidak percaya. Maka untuk membuktikan sekaligus membawa pulang Ferriera, Garupe dan Rodrigues nekat berangkat meski sebenarnya mereka tahu bahwa Jepang pada saat itu tidak bersahabat buat para penganut Katolik.

Disini, Scorsase memberi kita ceramah terbaik tentang iman dan kepercayaan dengan caranya yang luar biasa. Memulai dirinya dengan salah satu momen pembuka paling haunting tahun lalu lengkap bersama segala set pegunungan hitam Nagasaki yang disesaki kabut belerang, Scorsese langsung menetapkan tone Silence yang tidak nyaman. Ada ancaman mengerikan tergambar dari momen penyiksaan yang melibatkan kulit melepuh, orang-orang berjanggut yang tergantung di tiang dan kepala terpegal serta ekspresi putus asa karakter Ferriera yang dimainkan Liam Neeson. Ada nada mencekam di setiap visual sinematografi Rodrigo Prieto yang menangkap lanskap hijau pegunungan Jepang dan pantainya yang sunyi nan indah di separuh awal film, sementara di paruh keduanya, Scorsese sukses menampilkan detail Jepang abad 17 dengan segala atribut budayanya, meski sebenarnya proses pengambilan gambar seluruhnya dilakukan di Taiwan.

Tidak seperti The Temptation of The Christ yang mungkin akan menjadi terlalu personal dan kontroversial, Scorsese membua Silence menjadi terasa lebih universal. Ini berlaku kepada siapa saja, agama mana saja. Kita bisa mengganti Katolik dengan agama lain dan hasilnya tetap akan sama ketika bicara soal keimanan seseorang terhadap apa yang dia percaya. Scorsese benar-benar tahu  bagaimana memaksimalkan premis Shusaku Endo, mengubah setiap lembaran novelnya menjadi sajian spiritual yang akan terus menghantui pikiran penontonnya, memaksa untuk kemudian tanpa sadar membuat mereka merenung, bertanya dalam diri, “Apakah keimananku sudah cukup kuat untuk menahan segala godaan dan cobaan?” karena cobaan dalam Silence tidak main-main, bahkan bisa membuat seorang pastor paling hebat sekalipun terguncang.

Jepang abad ke-17 memang tidak anti barat, tetapi jelas mereka menutup diri dengan segala ajaran Nasrani. Taruhannya sangat besar, jika nekat tidak mau melepaskan segala atribut, bisa-bisa berakhir di kayu salib dihajar ombak atau digantung terbalik sampai mati. Meski punya premis sederhana tentang misi pencarian orang hilang pada awalnya, Silence dengan bekal tema religi yang serius kemudian bergerak lambat bersama temponya yang  merangkak. Perlahan misi pencarian dan misionaris berubah menjadi lebih dalam, kompleks tidak dalam arti plotnya menjadi berat dan susah dicerna, tetapi lebih kepada pertentangan batin karakternya.

Kita mungkin bisa melihat dengan jelas bagaimana karakter Sebastiao Rodrigues dan Fransisco Garupe mengalami guncangan hebat, baik fisik maupun psikis, namun tidak dengan alur ceritanya yang terkesan misterius. Menonton Silence seperti menjelajahi kamar gelap yang tidak kita kenal, ada kejutan di setiap perjalanannya, ada pertanyaan di setiap kelokan.

Scorsese membuat kita sama terjebaknya dalam situasi dilematis hebat sama seperti yang dihadapi oleh Sebastiao Rodrigues yang kemudian menjadi satu-satunya fokus karakter. Meski Jepang dan pemerintahannya digambarkan sebagai tanah yang angker buat kaum Nasrani, tetapi Scorsese tidak pernah benar-benar eksplisit untuk menggambarkan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah. Kedua kubu punya alasan masing-masing mempertahankan keyakinannya, dan Scorsese menjabarkannnya dengan sangat cerdas yang membuat segala kebrutalan di dalamnya masih bisa diterima meski terasa menyakitkan.

Silence menghadirkan sebuah pergolakan emosi yang hebat. Di satu sisi ada rasa takjub melihat penduduk desa punya keimanan yang luar biasa, entah mereka bodoh atau benar-benar percaya sampai-sampai rela mengorbankan nyawa yang bahkan mungkin tidak dapat dilakukan oleh kedua pastor kita itu. Namun di sisi lain, Scorsese juga menebar horor dalam setiap kedatangan Inquisitor, Inoue (Issey Ogata) dengan metodologi efektifnya mencari dan menangkap para penganut Katolik, menyiksanya dengan brutal sebagai contoh buat mereka yang masih ngeyel tidak mau melepaskan keyakinan mereka.

Sementara di jajaran akting, Andrew Garfield melakukan salah satu peran terbaik dalam kariernya. Menjadi pastor Sebastiao Rodrigues, mungkin aksen Portugisnya terdengar buruk, tetapi tidak dengan bagaimana ia berhasil meyakinkan penontonnya bahwa seorang dengan label religius pun bisa sama rapuhnya dengan manusia-manusia lain ketika dihadapkan dengan ujian maha berat. Adam Driver, meski tampil hanya di separuh film, namun ia terbilang memberi arti lain dari sebuah keraguan dan keagamaan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri