southpaw_poster

Southpaw

Tinju itu sebenarnya tidak berbeda dengan kebanyakan film olahraga lainnya. Konsepnya masih sama, jika tidak diakhiri dengan kemenangan super dramatis maka kalah dengan terhormat adalah pilihan yang masuk akal. Tetapi bisa jadi film tentang tinju punya track record paling bagus dalam perjalanannya sebagai sebuah film ketimbang jenis olahraga lain.

Tinju adalah olahraga keras klasik yang entah kenapa bisa begitu pas ketika disandingkan dengan drama kehidupan di balik karakter utamanya, mungkin karena ia bukan jenis olahraga kelompok macam basket, baseball atau football yang melibatkan banyak orang. Sisi humanisme yang begitu kuat itulah yang kemudian membuat film-film besar macam Rocky, Raging Bull, The Hurricane, Cinderlla Man, The Million Dollar Baby sampai Real Stell bisa begitu membekas.

Southpaw sendiri dari judulnya yang mengacu pada salah satu gaya bertinju sudah jelas menjadikan olahraga baku pukul ini sebagai jargonya. Tidak berbeda dari kebanyakan koleganya, premisnya sendiri masih mengusung tema yang sama; from hero to zero back to hero again dengan segala lika-liku kehidupan yang mewarnai perjalanan tokoh utamanya dalam berdamai dengan masa lalunya.

Dalam kasus Southpaw kita akan bertemu Billy “The great” Hope (Jake Gyllenhaal), petinju kelas berat ringan (Lighy heavyweight) yang seperti terlihat di awal film dengan kemampuan dan kepercayaan diri super tinggi  baru saja menghempaskan lawan sekaligus mempertahankan gelar dan rekor tak terkalahkannya.

Ya, dari bocah nakal penghuni panti asuhan Brookyln, Biily kini menjelma menjadi petinju paling hebat di dunia. Kesuksesannya tidak lepas dari pengaruh besar sang istri tercinta, maureen (Rachel McAdams). Namun bak tersambar petir di siang bolong, kehidupan sempurna Billy mendadak berubah drastis ketika sebuah insiden di sebuah acara amal berakhir dengan kamatian tragis Maureen. Dari sini Billy langsung hancur berantakan. Karier tinju profesional dan hartanya habis, ia ditinggal teman-teman dan promotornya. Kini Billy memulai lagi semuanya dari bawah di bawah bimbingan pelatih tinju Titus Wills (Forest Whitaker), bukan hanya sekedar bisa kembali ke ring tinju namun yang terpenting buatnya adalah bisa mengambil kembali putri semata wayangnya yang ditahan departemen sosial.

Berbicara soal konsep, sebenarnya tidak ada yang spesial di Southpaw. Ya, dari trailernya saja kita bisa melihat kejutan seperti perubahan fisik ekstrim Jake Gyllenhaal. Lihat tubuhnya yang semakin kekar dengan tato dimana- mana, lihat wajah sangarnya yang babak belur dengan darah mengalir deras di mata kirinya, tetapi selain itu Southpaw masih setia berada di jalur yang sama dengan drama-drama olahraga lainnya.

Tetapi bukan berarti tanpa sajian narasi orisinil ia kemudian menjadi lemah. Ya, kekuatan terbesar dari genre ini memang adalah template familiar yang dihadirkan tidak peduli berapa kali konsep yang sama dipakai bolak-balik, melihat perjuangan seorang manusia yang merangkak naik dari kubangan kotor menuju kejayaan dengan segala suka-dukanya itu selamanya akan selalu menjadi tontonan menarik. Tanpa embel-embel “kisah nyata” seharusnya naskah garapan kreator serial televisi Sons of Anarchy, Kurt Sutter ini bisa menghadirkan sesuatu yang setidaknya bisa sedikit keluar dari zona nyaman, sekali lagi itu bukan masalah besar. Menggunakan formula tradisional yang sama yang sudah bolak-balik dipakai memang imabasnya membuat Southpaw menjadi begitu klise. Penontonnya dengan mudah akan mengetahui apa yang akan kemudian terjadi pada jagoan kita bahkan ending-nya pun tidak akan jauh-jauh dari dua pilihan, menang dramatis atau kalah terhormat.

Yang menarik adalah bagaimana Fuqua menerjemahkan naskah old fashioned Sutter ke bentuk visual. Kita tahu Fuqua bukanlah penggemar melodrama, film-filmnya kebanyakan bergerak cepat, namun selalu ada pengecualian dalam hidup dan Soutpaw sejaih ini menjadi film Fuqua dengan pace yang paling lambat namun tidak pernah kehilangan sisi macho-nya yang agresif. Southpaw memang lambat, tetapi “tonjokkan” yang dihasilkan Fuqua bisa jadi sama kuat dan tepat sasarannya dengan drama-drama boxing bernada depresif lainnya lengkap dengan drama adu tonjok di ring tinju semegah Madison Square Garden yang digarap dengan detil maksimal, termasuk di klimaksnya yang menggetarkan itu.

Memang tidak ada pendalaman karakter yang selalu salam seperti Raging Bull-nya Scorsese meski Gyllenhaal sebenarnya nyaris mengambil semua porsi durasi dengan performa dan transformasi luar biasanya sebagai petinju hebat yang terpelanting jatuh pasca kehilangan orang tercinta dan berusaha kembali, tidak hanya sebagai petinju namun sebagai ayah buat putrinya, leila (Oona Laurence) dan manusia yang lebih baik. Kapasitas Gylenhaal yang mampu memerankan sisi gelap dan terang manusia sudah bolak-balik teruji, dan menjadikannya petinju bermasalah dengan ego yang berusaha menebus dosa jelas tidak semenantang perubahan fisik drastisnya. Ini adalah peran yang mudah buat Gylenhaal. Begitu dominannya peran Gyllenhaal membuat nama-nama besar lain macam Rachel McAdams dan Forest Whitaker terkesan hanya sebagai tempelan meski di atas kertas keduanya sebenarnya punya peran sangat penting.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri