spectre1

Spectre

Seperti kata karakter misterius Franz Oberhauser dalam trailernya, “Welcome, James. It’s been a long time… and, finally, here we are” Tentu saja senang bisa melihat Mr. Bond kembali lagi meski sebenarnya jarak tiga tahun sejak film terakhirnya bukanlah waktu yang lama buat franchise spionase yang sudah berumur 50 tahun lebih. Ya, Spectre adalah judul yang dipilih menjadi instalemen ke-24 James Bond, judul yang juga merupakan nama organisasi kriminal internasional yang sebenarnya sudah muncul sejak jilid Diamonds Are Forever yang rilis 1971 silam. Masih ditangani oleh Sam Mendes, sutradara yang berhasil membuat Skyfall menjadi salah satu seri Bond terbaik di era modern setelah Casino Royale yang kebetulan juga bagian dari Bond era Daniel Craig.

Jika kebetulan kamu terlebih dahulu sudah melihat trailernya yang berdurasi kurang lebih dua menit itu lagi-lagi kesan suram dan gelap menghinggap di setiap adegannya yang juga nyaris tidak memperlihatkan momen aksi, hal ini seakan-akan mengisyaratkan Spectre akan dikuasai oleh lebih banyak narasi yang jauh lebih kompleks dan lebih personal buat karakter Bond lengkap dengan gambargambar indah, dialog berat (“You are a kite dancing in a hurricane, Mr Bond”) kehadiran villain baru yang misterius dan kuat. Sayangnya, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Buat penonton yang mengharapkan action dan kecewa dengan trailer-nya, tenang saja, Spectre masih menawarkan dentuman aksi khas Bond yang cepat dan seru bahkan sejak awal ia dibuka.

Harapan akan suguhan Bond pemungkas era Craig yang berkesan sepertinya gagal  dihadirkan Mendes kali ini. Ya, ekspektasi akan narasi yang lebih dalam dari para pendahulunya ternyata tidak terbukti meski sebenarnya potensi menjadi besar ada di dalamnya. Coba cek, trailernya menampilkan suasana suram yang seakan-akan menitik beratkan pada pribadi dan masa lalu Bond serta rahasia besar yang akan terkuak nanti, tetapi dalam perjalanannya tidak demikian. Setelah 15-20 menit penontonnya perlahan akan menyadari bahwa naskah keroyokan garapan John Logan, Neal Purvis, Robert Wade dan Jez Butterworth ini menjadi terlalu dangkal, jauh dari yang diharapkan.

Beberapa bagian terasa dibiarkan terlalu panjang dan bertele-tele sehingga menghasilan kejenuhan bagi sebagian penontonnya, belum lagi saya menyebut beberapa bagian lain yang terasa terlalu digampangkan, padahal kalau mau, ada ruang lebih untuk mengeksplorasinya guna memberikan sisi emosional, lihat saja salah satunya misteri musuh Bond, Ernst Stavro Blofeld alias Franz Oberhauser yang awalnya memberikan ancaman meyakinkan dengan menampilkan keterkaitannya dengan musuh-musuh Bond sebelumnya seperti Raoul Silva dari Skyfall, Le Chiffre termasuk love interst Bond, Vesper Lynd yang tewas mengenaskan di Casino Royale.

Ya, dari sini saya tentu saja punya harapan besar bahwa Oberhauser sebagai bos besar dari segala bos akan memberikan tekanan penting pada narasi Spectre, entah dengan cara mengulik masa lalu Bond atau punya kecerdasan luar biasa yang akan mengintimidasi jagoan kita nantinya baik secara mental mau fisik, tapi sekali lagi harapan tinggal harapan, kenyataannya Oberhauser tidak segarang itu, Mendes dan tim penulisnya juga memilih jalan yang lebih
sederhana untuk menyelesaikan konfliknya dengan dalih menghormati era Bond klasik yang imbasnya malah menghilangkan ciri khas Bond Craig.

Tetapi apa pun kekurangannya, film James Bond tetaplah film James Bond, termasuk Spectre cukup enjoyable untuk dinikmati khususnya pada sekuens aksinya yang menantang. Dari berjibaku dalam helikopter di pembukaannya, balapbalapan di jalan raya kota Roma antara Aston Martin DB10 dan Jaguar C-X75 yang dikendarai pembunuh sekaligus henchman Oberhauser, Mr. Hinx (Dave Bautista) sampai puncaknya di London berhasil digarap dengan apik dalam balutan sinematografi cantik dari Hoyte van Hoytema (Interstellar, Her), sementara scoring garapan Thomas Newman menderu-deru memberi emosi di setiap adegan penting. Singkatnya, secara teknis, Mendes masih dibilang berhasil membungkus Spectre dengan kualitas tingkat tinggi dan keglamoran klasik khas film Bond .

Sementara jajaran pemainnya bisa dibilang hit and miss. Daniel Craig tentu saja menjadi daya pikat utama Spectre seperti di seri-seri sebelumnya. Meski mulai menua tetapi kharisma Bond dan ketangguhannya masih terpancar kuat meski kini narasinya tidak lagi terlalu banyak bermain-main dengan emosinya. Sementara miss-nya bisa dibilang terlalu banyak. Pemilihan Léa Seydoux dan aktris gaek Monica Bellucci memang menarik secara fisik dan nama besar. Seydoux jelas adalah aktris penuh potensi dengan segudang pengalaman bermain baik di negaranya sendiri, Perancis maupun beberapa judul keluaran Hollywood, tetapi buat saya Seydoux tidak punya material untuk menjadikannya gadis Bond yang tepat yang akan selalu diingat layaknya Eva Green di Casino Royale atau Famke Janssen di Golden Eye, dan menjadi masalah ketika naskahnya memberi tempat spesial buat karakter Madeleine Swann di hati Bond tanpa jalinan chemistry yang kuat. Tetapi dibanding Monica Belluci, Seydoux masih terbilang sangat beruntung karena mendapatkan screen time lebih banyak, Belluci sendiri tampil sangat singkat bak cameo tak penting yang dengan mudah digantikan siapa saja.

Karakter-karakter lain macam Q yang dimainkan Ben Whishaw memberi warna komedi tersendiri ketika disatukan dengan Bond, lalu Naomie Harris kali ini tidak mendapatkan banyak porsi sebagai Moneypenny. M baru di bawah kendali Ralph Fiennes mungkin kini tidak sememorable Judy Dench. Last but not least, ada Christoph Waltz yang didapuk sebagai villain utama sebenarnya punya modal menjadi salah satu karakter bos musuh paling dikenang dalam sejarah Bond dengan segala konsep Spectre yang misterius dan mengerikan itu, tetapi sayang narasinya tidak memberi kesempatan buat Waltz untuk berkembang dan itu adalah hal yang sangat disayangkan ketika ia hanya berakhir sebagai musuh Bond yang terlupakan.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri