2014-teenage-mutant-ninja-turtles

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES

Meski di era millienum ini sektor film-film superhero adaptasi komik porsinya masih dikuasai oleh Marvel dan DC, franchise Teenage Mutant Ninja Turtles dari komik milik Mirage akan tetap menjadi sebuah fenomena tersendiri sampai kapanpun. Bagi mereka, mantan bocah kelahiran era 80-an seperti saya, “KuraKura Ninja” adalah para pahlawan masa kecil. Dari komik, adaptasi video game dan animasinya yang tayang setiap sore di stasiun televisi nasional sudah membentuk citra kuat untuk terus memuja para reptil mutan keren pecinta pizza itu termasuk puncaknya, ketika aksi mereka kemudian dibuatkan versi live action-nya sampai tiga jilid (Teenage Mutant Ninja Turtles (1990 film), Teenage Mutant Ninja Turtles II: The Secret of the Ooze, Teenage Mutant Ninja Turtles III). Dan ketika pamor mereka mulai meredup di era 2000, beberapa sineas mencoba membangkitkannya kembali, mulai dari serial baru animasi televisi produksi 4Kids TV sampai, film animasi full CGI, TMNT 2007 yang masih tidak mampu mengembalikan kejayaan para Kura-Kura Ninja.

Percaya diri bahwa franchise ini masih bertaji, Nickelodon lalu nekat mebeli hak ciptanya dari tangan Mirage 2009 silam, mengajak Paramount serta Michael Bay dan Plantinum Dunes-nya untuk menghadirkan proyek sebesar 125 juta buat reboot Teenage Mutant Ninja Turtles yang akhirnya benar-benar terwujud setelah beberapa kali mengalami kemunduran jadwal rilis.

Reboot berarti memulai segalanya dari awal, dan versi terbaru Teenage Mutant Ninja Turtles di bawah arahan sutradara Wrath of The Titans dan Battle: Los Angeles, Jonathan Liebesman mencoba melakukan start ulang dengan memboyong semua karkater utamanya; empat kura-kura mutan selokan New York yang diberi nama dari para seniman lukis tersohor era Renaissance, guru dan ayah mereka si tikus bijaksana Splinter, sang arch enemy, Shredder serta tentu saja reporter cantik April O’Neil dalam come back Megan Fox pasca tiga tahun absen di dunia layar lebar.

Wise men say, Forgiveness is devine, but never pay full price for late pizza!, – TMNT

Terlepas dari plot garapan Josh Appelbaum, André Nemec dan Evan Daugher yang kelewat ringan, datar dan sedikit lancang memodifikasi origins para kura-kura, TMNT anyar ini punya pesona tersendiri ketika tim spesial efek-nya berhasil mempersembahkan performa mo-cap sempurna untuk menampilkan.setiap personil TMNT lengkap dengan senjata dan karakteristik khas masing-masing, misalnya Rafael punya wajah paling sangar dan postur tubuh paling kekar mengingat karakternya yang paling kuat dan bandel, lalu Donattelo si jenius dibuat sedikit lebih ramping lengkap dengan kaca mata besar dan gadget untuk menegaskan sisi nerd-nya.

Ya, tampilan mereka mungkin terlihat lebih jelek dari yang sudah-sudah, namun dengan dukungan teknologi canggih, joke-joke ringan yang menghibur (terutama dari si kuning Michelangelo) plus pengisi suara yang pas, mereka bisa tampil keren dengan segala aksinya. Sedikit mengecewakan adalah tidak semua personilnya mendapatkan porsi seimbang. Leonardo sang pempimpin seperti tak punya wibawa dan Donattelo terlalu pasif ketimbang dua saudaranya, Rafael dan Michelangelo. Sementara penampilan dari sang villain utama, Shredder yang dimodif dengan armor hi-tec berlebihan yang malah membuat terasa aneh, ia tampak terlihat seperti Silver Samurai dari Wolfverine ketimbang Shardder yang kita kenal.

Berbicara soal aksi, meskipun Bay hanya duduk santai di bangku produser namun ini adalah proyek impiannya. Pengaruhnya begitu terasa ke penyutradaraan Liebeseman. Lihat saja setiap hingar bingar ledakan, setiap slowmotion bahkan humorhumornya begitu terasa sangat “Bay-esque”. Tetapi tidak semua memukau, beberapa aksinya terlihat keren seperti momen kejarkejaran di gunung bersalju namun beberapa lagi terlihat garing dan membosankan dan klimaksnya seperi mencomot cerita dari The Amazing Spider-Man.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri