www.kinocast.net

The Big Short

Dengan begitu banyaknya angka dan istilah-istilah ekonomi macam obligasi, pinjaman subprime, credit default swap collateralized debt obligations (CDOs), AAA, hipotek dan bla…bla…bla berhamburan di layar sepanjang dua jam lebih durasinya, tentu saja The big Short bukan sebuah film yang ramah untuk dikonsumsi secara penuh oleh penonton-penonton dengan ilmu ekonomi, bisnis dan keuangan yang cetek, seperti saya salah satunya.

Tetapi berita baiknya adalah drama biopik yang diadaptasi dari bukunya Michael lewis berjudul sama tentang ambruknya ekonomi Amerika Serikat 2008 lalu ini disajikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah, seperti membaca buku “1001 economics for Idiots” dengan gambar-gambar lucu. Ya, kudos buat penyutradaraan Adam McKay yang sebenarnya masih susah dipercaya dengan track record sebagai sutradara dari film-film konyol macam Talladega Nights: The ballad of Ricky bobby, dua seri Anchorman, Step brothers sampai The other Guys ini mampu menyulap bahan mentah yang super serius dan kompleks itu menjadi sajian biografi yang tidak hanya sangat informatif, cerdas dan mendetail, namun sangat menghibur. Ya, ini memang adalah film rumit, bohong saja jika ada non-pakar yang mengatakan sebaliknya.

Tetapi sebenarnya kamu tidak perlu mengerti segalanya di sini, hanya butuh sedikit konsentrasi, terlebih ketika Cameo Margot Robbie menjelaskan tentang CDo, setidaknya cukup mengerti separuhnya saja bisa terlibat dalam salah satu film paling seru tahun lalu ini, dan biarkan McKay mengambil alih tugasnya sebagai dosen ekonomi terbaik yang pernah kamu punya. Garis besarnya, The big Short bercerita tentang krisis yang menghajar telak wajah perekonomian Paman Sam yang sombong itu 2008 silam ketika mereka tidak pernah menyangka bahwa sistem kredit perumahan rakyat yang mereka banggakan sejak lama itu ternyata berbalik menjadi senjata makan tuan, dan menghancurkan nyaris segalanya. Mungkin efeknya tidak sampai menjalar ke belahan dunia lain, tetapi buat Amerika Serikat sendiri ini adalah hantaman luar biasa kepada perekonomian mereka.

Jutaan rakyat kehilangan pekerjaan dan rumah, pasar saham Wall Street runtuh seperti Jenga, perusahaan besar gulung tikar bahkan konon banyak yang bunuh diri karena bangkrut. Tetapi tidak semua orang tersungkur, beberapa manusia seperti Michael burry (Christian bale), manajer nyentrik dari sebuah perusahaan jasa keuangan sudah memprediksinya sejak dua tahun lalu ketika ia menemukan fakta bahwa ketika banyak orang yang telat atau tidak membayar kredit rumah mereka, maka bom waktu kehancuran ekonomi tinggal menunggu waktu saja. burry tidak hanya piawai memprediksi dengan hitunghitungannya yang konon tidak pernah salah, namun ia juga mencoba mengambil untung besar dari kiamat ekonomi yang sudah diramalkannya itu dengan perjudian luar biasa sebesar US$ 1,3 Miliar.

Langkah ekstrem burry jelas terlihat bodoh pada saat itu, di mana situasi perekonomian Amerika dianggap sedang kuat-kuatnya, rupanya mendapat perhatian dari seorang trader, Jared Vennett (Ryan Gosling) yang kemudian meneruskannya kepada kepala biro jasa keuangan lainnya, Mark baum (Steve Carrell).

Sementara di saat bersamaan, dua pebisnis muda, Charlie (John Magaro) dan Jamie (Finn Wittrock) dengan bantuan seorang mantan bankir, ben Rickert (brad Pitt) mencium peluang manis menjadi kaya setelah juga tanpa sengaja menemukan proposal yang ditinggal Vannet. Dengan jajaran ensemble cast sementereng ini, susah untuk tidak terpikat dengan The big Short terlepas tidak atau tahunya kamu tentang apa yang ditawarkan isinya.

Jika pada akhirnya masih tidak mengerti juga pun tidak masalah, mungkin memang otakmu tidak sampai atau kamu memang tidak pernah peduli, toh satu hal yang hanya perlu kamu ketahui adalah pesanpesan moral tentang bagaimana Amerika Serikat dengan sistem ekonomi super kuatnya ternyata juga bisa kolaps ketika mereka terlalu congkak untuk melihat ada celah yang bisa menghancurkan, bahkan di saat genting pun pemerintah setempat melakukan tindakan curang dengan dalih menyelamatkan perekonomian yang pada akhirnya tetap hancur juga.

Sementara di tempat lain juga ada manusia-manusia oportunis serakah yang memanfaatkan segala kekacauan demi keuntungan mereka meski memang tidak semuanya, contoh seperti karakter Mark baum-nya Steve Carrell yang sampai menjelang akhir pun enggan menjual swap-nya, karena dengan menjual ia berarti menari-nari di atas penderitaan jutaan manusia yang menjadi pengangguran dan kehilangan tempat tinggal meski kita tidak juga bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena apa yang mereka lakukan adalah pembelajaran setimpal buat pemerintah Amerika dengan kepercayaan diri mereka yang kelewat tinggi.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri