www.nziff.co.nz

The Handmaiden

Judulnya secara harfiah bisa diartikan sebagai “pembantu perempuan”, tetapi tentu saja dalam dunia Park Chan-wook tidak lantas menjadi sesederhana itu. Kita tahu kapasitas Chan-wook dalam menghasilkan thriller-thriller psikologis gelap dengan segala bumbu balas dendam kental ala Korea Selatan yang ‘sedap’, lihat trilogi Vengeance, Oldboy, Lady Vengeance), Thrist sampai debut hollywood-nya, Stoker, semua punya benang merah yang sama, tidak terkecuali dengan karya terbarunya ini yang sempat unjuk gigi di ajang Palme d’Or-nya Cannes bulan Mei silam.

Diapatasi dari novel Fingersmith buah karya Sarah Waters, Chan-wook memindahkan era Victorian Inggris ke Korea 1930 pada masa penjajahan Jepang. Penipu ulung, Count Fujiwara (Ha Jung-woo) menyewa jasa seorang pencopet, Sook-he (Kim tae-ri) untuk dijadikan pembantu buat perempuan kaya, Lady Hideko. Tugasnya adalah meyakinkan Lady Hideko agar mau menikahi Fujiwara yang tentu saja ingin menguasai harta perempuan misterius yang tinggal bersama paman tuanya (Cho Jin-woong) yang sama anehnya itu. Tetapi alih-alih tertarik dan jatuh cinta pada Fujiwara, Hideko malah terlibat asmara terlarang dengan Sook-he.

The Handmaiden menjadi tontonan menarik, tidak hanya karena ia dipenuhi oleh trademark Chan-wook, dari teknis asrtistik jempolan, sinematografi cantik, performa gemilang dari Kim Min-hee dan pendatang baru, Kim tae-ri serta tentu saja tidak ketinggalan darah dan kebrutalan dalam kanvas thriller yang gelap dan penuh belitan dan kejutan, tetapi The Handmaiden kemudian menjadi terasa lebih spesial ketika Chan-wook turut memasukan tema lesbian nan kontroversial dari novel Sarah Water dengan segala tensi seksualnya yang tinggu dan eksplisit serta pesan-pesan feminisme terutama tentang kualitas cinta di antara dua gender berbeda.

Tetapi dengan segala hal itu, ia tak lantas kemudian menjadi tontonan stensilan tak bertaji, sebaliknya Chan-wook bersama Seo-Kyung Chung mengolah dengan baik plotnya yang tertuang dalam tiga segmen besar di sepanjang 145 durasinya yang saling mengisi satu sama lain dari sudut pandang berbeda, menjahitnya menjadi kesatuan cerita tentang dominasi pria atas wanita, erotisme cantik serta kisah cinta dengan segala twist di sana-sini.

Meski harus diakui juga narasinya sedikit kedodoran di pertengahan film dan kejutan di akhir sudah dengan mudah ditebak, karena Chan wook terlalu baik memberi banyak penjelasan.

The Handmaiden yang punya judul asli Agassi memang seakan-akan hanya menjual tema kontroversial, namun penonton cerdas tentu akan melihat pesan dibalik segala momen dan tema lesbiannya. Ini adalah cerita tentang bagaimana terkadang pria tidak bisa memahami perempuan, yang sekadar dianggap sebuah objek demi kepuasan fisik yang sering menjurus kasar bahkan nyeleneh, coba saja lihat bagaimana kegiatan ‘membaca’ yang diajarkan pamannya Hideko.

Jadi tidak heran jika segala pengalaman traumatis itu kemudian membuat mereka memilih untuk mendapatkan kehangatan dan cinta dari sesama jenis yang bisa lebih mengerti.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri