foxmovie.com

The Martian

Tiga tahun berturut saudara-saudara! Ya, tiga tahun berturut-turut moviegoers dunia khususnya para sci-fi space thriller mania benar-benar dimanjakan oleh kehadiran judul-judul berkualitas yang mampu memberikan orgasme tersendiri. Di 2013, ada Gravity-nya Alfonso Cuaron yang  tidak hanya sukses menjadi thriller kelas satu bahkan masuk Oscar, namun juga membuat terobosan dalam dunia sinematik. Sementara setahun kemudian ada Christopher Nolan bersama kemegahan Interstellar dan filosofi kehidupan yang menakjubkan. Kini, 2015 giliran The Martian di bawah arahan Ridley Scoot, sutradara gaek asal Inggris yang sebelumnya pernah menghasilkan beberapa sci-fi hebat macam Alien, Blade Runner dan Prometheus.

Premis dasar yang diadapatasi dari novel Andy Weir berjudul sama ini sebenarnya simple. Kasarnya ini adalah cerita tentang menjemput kembali orang yang tertinggal, namun tentu saja dalam ukuran sci-fi sebesar ini dengan budget mencapai USD 100 juta lebih, narasinya menjadi lebih kompleks. Orang yang tertinggal itu bernama Mark Watney (Matt Damon), antariksawan yang juga seorang botanis NASA. Ia terpaksa ditinggal timnya yang dipimpin oleh Melissa Lewis (Jessica Chastain), karena dianggap telah tewas akibat badai dahsyat di saat mereka sedang melakukan penelitian di permukaan Mars. Masalahnya Mark belum mati dan tidak ada seorang pun yang tahu ia masih hidup di sana. Maka dari sini, dimulailah kisah bertahan hidup paling luar biasa yang pernah ada. Bagaimana kamu bisa hidup di planet gersang yang berjarak 35 juta km dari Bumi itu dengan seribu satu ancaman yang sudah menanti?

Planet Mars bisa jadi salah satu tempat favorit bagi para sineas. Sudah bolak-balik ia jadikan panggung untuk film-film fiksi ilmiah; dari Aelita produksi tahun 1924, sci-fi legendaris Tota; Recall, sampai John Carter yang flop itu. Tetapi, baru kali ini si Planet Mars benar-benar diperlakukan layaknya sebuah planet sejati. Dalam artian apa yang sudah dilakukan Scott bersama timnya adalah sesuatu yang luar biasa, ketika mereka mencoba melakukan pendekatan serealistis mungkin dalam menghadirkan sebuah space survival thriller, tanpa monster hijau, tanpa perjalanan waktu dan hal-hal lain yang ajaib.

Ya, tentu saja survival atau bertahan hidup adalah kunci utama yang dijual The Martian. Scott sebenarnya bisa saja mengadaptasi bebas buku Andy Weir, menjadikannya drama survival solo ala Cast Away-nya Robert Zemeckis, tetapi ia tidak melakukannya. Alih-alih Scott bersama penulis naskah Drew Goddard (The Cabin in the Woods) berusaha untuk tetap setia pada sumber aslinya; yang berarti dalam 141 menit durasinya kita tidak akan melulu melihat wajah Matt Damon, karena dalam perjalanannya akan ada banyak karakter lain di tempat berbeda yang turut meramaikan ceritanya. Seperti orang-orang NASA pimpinan Teddy Sanders (Jeff Daniels) atau JPL ( Jet Propulsion Laboratory) yang sedang kellimpungan memikirkan bagaimana cara menjalankan misi yang hampir mustahil untuk membawa pulang astronotnya. Dari sini, kemudian set-nya terbagi dua. Satu sisi yang jauh kita akan melihat bagaimana karakter Mark Watney berjuang bertahan hidup di planet asing, bagaimana Mark menjalani sol (sebutan hari dalam ukuran Mars) demi sol seorang diri. Sementara di satu sisi lain yang berjarak 35 juta kilometer, kita akan melihat perjuangan lainketika tidak hanya NASA, namun elemen manusia bersatu memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan Mark.

Kembali ke Mars, tentu saja sebagai kru NASA, Watney jelas cerdas namun terkadang cerdas saja tidak cukup untuk bisa bertahan di sana. Ia juga butuh keberuntungan dan salah satunya adalah karena ia adalah seorang botanis yang berarti dengan persediaan makanan yang ada Mark harus memikirkan bagaimana cara memproduksi lebih banyak ransum selama mungkin. Beberapa hasil dari pemikiran cemerlang Mark sering kali menjadi kejutan tersendiri dalam perjalanannya.

Ada campuran emosi dari rasa cemas melihat apa yang akan dilakukan Mark. Dari rasa cemas, tegang sampai tawa lepas, semua berhasil dimaksimalkan Scott dalam pendekatan sinematik yang tidak hanya terasa menghibur sebagai sebuah film dengan berbagai pengambilan gambar dan momen dramatisnya. Termasuk bagaimana ia dan timnya berhasil menyulap lembah pasir dan batu Wandi rum di Jordania menjadi Mars ‘gadungan’ yang cantik dan juga mencekam, lengkap dengan segala detail dan suasana terisolasinya yang bahkan diakui oleh NASA. Namun, ia juga menjadi sajian inspiratif dan mendidik, terlebih dengan segala edukasi dan penelitian ilmiah yang berhasil disuntikan ke dalam narasinya. Misalnya, bagaimana cara membuat air dan bercocok tanam di Mars.

Dengan durasi sepanjang ini, butuh sesuatu untuk membuat penontonnya betah berlama-lama di bangkunya dan Scott tahu benar bagaimana menjaga pace The Martin dengan baik. Hampir tidak ada momen membosankan di dalamnya. Setiap adegan diisi dengan efektif dan jauh dari kesan lambat. Belum lagi ditambah elemen humor yang memberi variasi santai di tone seriusnya. Meski untuk ukuran sebuah film survival, elemen bertahan hidupnya masih terasa kurang greget. Karena meski bermain bagus sebagai seorang antariksawan pintar, namun karakter Damon tidak mampu memberikan sebuah rasa simpati yang kelewat dalam. Ini bisa jadi, karena Scott harus membagi porsi narasinya antara Mars dan Bumi. Sehingga ketika Mark terasa tidak maksimal meski memang harus diakui, hidup matinya narasi The Martin bergantung dengan performa Damon, singkatnya ia tidak buruk, namun juga tidal sampai luar biasa.

Satu lagi yang disayangkan dalam The Martian adalah banyak karakter yang terbuang percuma dan seperti salah tempat. Jessica Chastain misalnya. Di dapuk sebagai kapten pesawat antariksa Hermes yang beranggotakan Michael Pena, Kate Mara Sebastian Stan dan Aksel Hennie, Chastain memang punya semua pesona sebagai seorang pemimpin, tetapi dengan kapasitasnya sebagai aktris besar dirasa mubazir untuk porsi yang tidak terlalu besar. Lalu ada nama Kristen Wiig yang seperti salah tempat.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri