DSC_2413

The Problem of Trevor Zhou “Saya ingin hidup dalam Film”

Waltz Film yang mengejutkan, awalnya saya kira hanya tentang seorang ibu paruh baya yang ingin belajar dansa Waltz, seperti judulnya. Tapi dalam durasi pendek, Trevor bisa memberikan refleksi tentang ego dan amarah dengan pasangan yang didamaikan dengan hal-hal sederhana. Misalnya mengenyahkan barang-barang yang menumpuk di tiap pojok rumah, hingga memiliki ruang dansa (masih sangat sempit karena tinggal di apartemen) dan menari bersama suaminya.)

Itulah tulis Luh De Suryani seorang blogger yang juga merupakan relawan dari kegiatan Minikino film Week 2016. film Waltz adalah satu dari puluhan film yang diputar pada festival film pendek tersebut. Waltz adalah film pendek kedua yang dibuat oleh Trevor Zhou, seorang movie maker, penulis dan juga aktor yang tinggal di New York. Sineas ini kelahiran Beijing, Trevor dan keluarganya pindah ke Ann Arbor, Michigan ketika ia berusia lima tahun. Kemudian kuliah di University of Michigan dan menerima gelar bachelor. Selama waktunya di perguruan tinggi, ia belajar selama satu tahun di university of Cape Town Afrika Selatan, dimana ia fokus pada seni rupa.

Karya-karyanya berkisar proyek konseptual yang memanfaatkan banyak media termasuk elektronik, patung, keramik, cat dan pemasangan. Dia kemudian beralih ke dunia akting, tampil di sejumlah film independen dan muncul dalam iklan nasional dan regional. Trevor juga tercatat dalam kredit televisi seperti Law & Order: SVu, The blacklist, Broad City dan Person of Interest. Dia juga dapat dilihat pada The Sitter dengan Jonah Hill, serta batman v Superman: Dawn of Justice. film pertamanya, berjudul The Problem of Gravity terpilih secara resmi di sejumlah festival film. beberapa waktu lalu, Trevor berkunjung ke Indonesia untuk mengenal lebih dekat dunia perfilman tanah air. Kepada kami, Trevor bercerita soal karirnya.

Sejak kapan Anda mecintai dunia Film?

Saya suka film dari kecil, saya lahir di Beijing, film pertama yang saya tonton, tentang seorang yang menggunakan kursi roda, kemudian orang tersebut membawa pistol dan ia berkelahi dengan menggunakan pistol itu, saya mulai suka karena menonton film ini. Saya pindah ke Amerika saat berumur 5 tahun, dimana film yang saya tonton pertama kali adalah “Home Alone“.

Mengapa memilih Film Pendek?

Saya memilih film pendek dari pada picture film, karena picture film biayanya lebih besar, saya baru membuat 2 film pendek, di film kedua, saya mengambil ide dari picture film yang panjang. Salah satunya yang barusan ditayangkan dilayar (film Waltz). Jadi film pendek itu lebih amazing menurut saya, karena tidak perlu memiliki struktur yang sama seperti fitur-fitur film yang biasanya.

Bagaimana rasanya terlibat Pembuatan Film Kelas Internasional?

Saya suka ketempat baru, ketemu orang baru, terus ada makanan baru, kebudayaan baru seperti itu. Saya suka membagikan film untuk memperkenalkan budaya saya, ke budaya yang berbeda, karena kita itu satu budaya sebenarnya. Kita itu merasakan hal yang sama walaupun dengan budaya yang berbeda-beda.

Apa proyek yang sedang dikerjakan sekarang?

Beberapa hari yang lalu saya ke Singapura, dan saya singgah di rumah makan, saya memperhatikan seseorang selama satu setengah jam, lalu membuatkan film dokumenter. Dan saya juga lagi ngedit film dokumenter mengenai sahabat saya di Afrika Selatan. Selain itu, saya menulis film mengenai “assassination”, pembunuh yang baru memulai kehidupannya berkeluarga, tapi film ini saya buat bersama teman saya, dan sedang kami kerjakan.

Bagaimana Anda melihat perkembangan Perfilman di Indonesia?

Saya belum pernah melihat film Indonesia, karena itulah saya datang ke Indonesia untuk mengetahui film di Indonesia.

Adakah misi khusus sebagai pembuat film?

Saya juga ingin membuat dunia lebih baik melalui art atau film-film yang saya buat, dan saya ingin memiliki keluarga dan buah hati, serta memaksimalkan potensi pada diri saya sebagai pembuat film, dan ingin hidup dalam film tersebut, tapi ini harapan yang belum saya capai.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri