theverge.com2

The Red Turtle

Father and Daughter tidak hanya menjadi animasi terpanjang yang pernah dibuat animator Belanda michaël Dudok de Wit, namun juga berhasil meraih penghargaan tertinggi di ajang Oscar di kategori animasi pendek terbaik 2011 silam, sekaligus menjadi batu pijakan buat dirinya untuk dipercaya menangani animasi panjang dan besar pertamanya yang diberi tajuk The Red Turtle.

The Red Turtle a.k.a la Tortue Rouge sendiri jelas bukan animasi sembarangan, ada nama besar Studio Ghibli, si raksasa animasi Asia di belakangnya. meski punya pengaruh besar, Ghibli tampak mempercayakan segalanya pada de Wit, termasuk bagaimana The Red Turtle dihadirkan dengan pendekatan ala de Wit yang sederhana dan terasa begitu eropa (lihat desain karakternya), kita tidak akan mendengar satu dialog pun terucap di 80 menit durasinya. Tetapi bukan berarti pengaruh Ghibli tidak ada sama sekali, unsur fantasi kemudian diselipkan ke dalamnya untuk menjadikan The Red Turtle terasa lebih magical.

Narasinya pun sama sederhananya, cerita tentang seorang laki-laki yang terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. usahanya untuk bisa keluar dari sana beberapa kali kandas ketika rakit bambu yang susah payah dibuatnya selalu dihancurkan oleh seekor penyu merah misterius. Premisnya mungkin akan terasa lebih cocok dibuatkan dalam animasi pendek dengan durasi 10 menitan, tetapi percayalah, di sini de Wit masih mampu memanjangkan konsep sederhana The Red Turtle menjadi tontonan film panjang tanpa harus terasa memaksakan diri. Ya, saya suka bagaimana de Wit membuat The Red Turtle menjadi sebuah pengalaman emosional tanpa terasa berlebihan dengan memanfaatkan elemen fantasinya, sebaliknya ia berhasil membawa animasi yang tayang perdana di ajang Cannes kemarin ini dari kisah bertahan hidupnya menjadi dongeng indah yang terasa surreal, lebih puitis dan entah bagaimana bisa berakhir begitu emosional. Kesederhanaan animasi dan premisnya berpadu padan dengan sangat cantik dengan tema relasi antara manusia dengan alam.

Sebuah alegori tentang rumah kemudian muncul bersamaan dengan kehadiran si penyu merah, rumah dimana bukan hanya sekedar bangunan tempat tinggal, namun tempat kita bisa merasa nyaman menghabiskan waktu yang lama bersama orang terkasih, tempat dimana kita dibutuhkan. Ya, menarik memang bagaimana de Wit menyulap tema bertahan hidupnya menjadi drama yang lebih personal, penonton kemudian diajak melihat bagaimana kehidupan laki-laki itu di sana dengan selipan romansa, bagaimana ia kemudian menyesuaikan diri dengan alam dan sekitarnya serta belajar tentang hidup dan cinta.

Untuk animasi dengan durasi 80 menit, The Red Turtle berjalan pelan dan sunyi. Susah mengatakan bahwa ini adalah sajian animasi yang pantas buat penonton kecil, yang bisa dipastikan akan susah untuk bisa mengerti pesannya yang dalam, belum lagi saya menyebutkan kualitas animasinya yang jelas kalah kelas dibanding koleganya yang hadir tahun ini macam Moana, Zootopia atau Kubo and The Two Strings, meski sebenarnya pendekatan animasi sederhana dan tradisional de Wit jelas tidak buruk. Namun bagi mereka yang mencari sajian animasi dengan konsep lebih dewasa, The Red Turtle adalah pilihan yang tepat. Penonton diajak sebagai pengamat yang kemudian merenungi segala momen yang terjadi, karena terkadang bahasa visual itu terasa universal, ia bisa lebih banyak berbicara ketimbang kata-kata. Dan yang terpenting, de Wit berhasil menghadirkan emosi hanya melalui gerak gerik serta permainan mimik wajah.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri