DSC_2507 4

Trisna Rahanian ‘Owner Bali Zoo’ – Kalau kangen, saya akan video call dengan satwa..”

Jika merujuk pada data di Wikipedia, maka di Indonesia hanya tercatat memiliki tidak lebih dari 25 kebun binatang. Sebagai sebuha negara yang begini besarnya, jumlah ini terang saja tidak proporsional, malah bisa dibilang terlampau sedikit. Itupun banyak diantaranya yang memang sudah ada sejak jaman Belanda, lainnya didirikan ketika era orde baru. Dan jika dihitung dalam waktu 15 tahun terakhir, jumlahnya tidak lebih dari 15 kebun binatang baru yang berdiri di Indonesia. Jumlah ini jelas berbanding terbalik dengan taman rekreasi hiburan lainnya, seperti water park misalkan yang tumbuh subur dihampir setiap propinsi. Alasannya jelas, Kebun Binatang merupakan wahana yang paling ribet dalam hal pendiriannya, mulai dari ijin keberadaan satwa, hingga kebutuhan lahan yang sangat luas, belum lagi biaya perawatan satwa yang tidak mudah dan murah. Apalagi kemudian dengan menghitung masa pengembalian investasinya yang lama, wajar jika kemudian kebun binatang bukanlah primadona bagi kebanyakan investor. Butuh alasan yang lebih dari sekedar bisnis, untuk mendorong seseorang mau menjadikan satwa sebagai ajang edukasi masyarakat. Dan ini, terjadi pada Anak Agung Gede Putra!

Berlatar belakang pendidikan jurusan peternakan, Gede Putra mengabdikan dirinya sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali selama 7 tahun. Dari pilihan jurusan pendidikannya, sudah menunjukkan ketertarikan beliau pada hewan, dan burung adalah hobinya yang tak bisa di tawar. Hampir setiap hari, Gede Putra pergi ke pasar burung. Dan semakin lama, koleksi hewan peliharaannya terus bertambah, bahkan belakangan bukan hanya burung, namun juga Orang Utan dan Walabi. Sayangnya, beberapa satwa yang dimilikinya ini tergolong langka, Gede Putra pun merasakan bagaimana dirinya kemudian di razia petugas, dan hewan-hewan peliharaannya pun berpindah tangan. Namun  dari sinilah kemudian idenya muncul, bagaimana caranya memelihara satwa legal, dan bahkan bisa menjadi ajang bisnis? Yup, kebun binatanglah jawabannya! Maka pada tahun 2002, berdirilah Bali Zoo yang berlokasi di Singapadu Gianyar Bali.

Kini Bali Zoo sudah dikelola oleh generasi kedua, salah satunya adalah Anak Agung Trisna Dewi Rahanian. Sejak kecil, anak kedua dari 5 bersaudara ini sudah hidup ditengah satwa-satwa peliharaan orang tuanya, dan ini yang membuat ikatan emosi antara dirinya dengan satwa demikian lekat. Ia pun turut menangis ketika orang utan yang tumbuh besar bersamanya kemudian di razia petugas. Bahkan, ia akan video call dengan satwanya jika tengah berada di luar kota demi melepas rindu. Rasa cinta seperti inilah yang kemudian menjadi modal bagi lulusan Fashion Business Retail di Esmod Jakarta ini untuk membawa Bali Zoo terus  berkembang. Kepada Money&I, Trisna pun bercerita lebih banyak perihal bisnis yang kini dikelola bersama saudaranya, berikut kutipannya.

Benarkah Anda melakukan Video Call jika kangen dengan hewan peliharaan?

Ha.. haa hobi saya itu  memang memelihara binatang, ini adalah warisan dari kecintaan Ayah saya terhadap satwa. Jika sehari saja tidak bertemu dengan hewan peliharaan, rasanya ada yang kurang, dan kalau lagi keluar kota, saya sempatkan diri untuk video call dengan mereka he..he.. Menggelikan memang bagi sebagaian orang. Dan bukan cuma itu, saya juga sangat menjaga asupan makanan mereka, melakukan treatment akupuntur dan massage yang terapisnya saya langsung panggil ke rumah untuk mereka.

He..hee so sweet. Ayah Anda memiliki kecintaan pada satwa, inikah yang menjadi fundamen berdirinya Bali Zoo?

Betul Ayah saya, (Anak Agung Gede Putra.red) memiliki kecintaan terhadap berbagai macam satwa. Beliau merupakan lulusan Fakultas Peternakan UNUD, dan selama 7 tahun mengabdikan diri sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali. Tapi kemudian beliau melihat pesatnya perkembangan industri pariwisata, dan bermunculannya art shop kerajinan gold dan silver, ini kemudian beliau dan memutuskan untuk mendirikan usaha Gallery (Singapadu Gallery.red). tapi sayangnya, belum lama usaha ini beroperasi, ujian pertama datang, perang teluk meletus sehingga kunjungan turis asing ke Bali menurun drastis, karena penerbangan dari wilayah Eropa terganggu. Beliau pun kemudian memutuskan untuk undur diri PNS dan berkonsentrasi menyelamatkan usaha.

Berhasilkah upaya tersebut?

Tipe Ayah saya adalah pekerja keras, beliau tak kenal lelah untuk melakukan eksperimen untuk meningkatkan produk yang inovatif, dan ini yang kemudian justru menjadikan Singapadu Gallery berkembang pesat, dan ketika kondisi wisata Bali mulai kondusif, ini semakin memuluskan usahanya. Dan ketika usaha ini mulai stabil, saat itulah Ayah saya memiliki waktu lebih untuk memanjakan hobinya memelihara burung, kecintaan beliau terhadap satwa inilah yang menurunn kepada saya. Coba bayangkan, hampir setiap sore orang tua saya mengajak kami (Trisna dan saudara), ke pasar burung. Lama kelamaan koleksi yang kami pelihara dirumah pun berkembang pesat, ini yang membangun ikatan emosional saya dengan satwa sangat kuat. Bahkan termasuk koleksi satwa langka yang dilindungi, seperti Orang Utan, Kaswari dan Walabi. Kami sangat terpukul ketika beberapa satwa langka ini kemudia di razia oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bali. Saya tidak henti-hentinya menangis, masih teringat jelas wajah-wajah orang utan yang setiap hari menemani masa kecil saya. Hingga kemudia Ayah mengajak kami untuk refreshinh ke beberapa Kebun Binatang. Beliau tertegun dan tercetus dalam benaknya untuk membangun Taman Satwa. Dan kemudian pada tanggal 4 September 2002, berdirilah Bali Zoo yang merupakan perpaduan bisnis, hobi, dan kecintaan pada satwa dan lingkungan. Sekarang, saya dan saudara merupakan generasi kedua penerus usaha ini.

 

“Saya juga sangat menjaga asupan makanan mereka, melakukan treatment akupuntur dan massage yang terapisnya saya langsung panggil ke rumah”

 

Berapakah modal yang dikeluarkan untuk mendirikan usaha ini?

Usaha ini dibangun secara bertahap, sekalipun secara resmi dibuka pada tahun 2002, namun prosesnya sudah dimulai dari tahun 1999. Dari  modal sendiri dan juga pinjaman bank, proporsinya kira-kira 40% modal sendiri dan 60% pinjaman bank. Total sekitar belasan miliar untuk pendirian Bali Zoo ini.

Kebun binatang merupakan bisnis dengan model dan risiko yang tinggi, bagaimana anda melihat ini?

Menurut saya, tidak ada bisnis yang tidak beresiko. Seperti hukum keseimbangan alam, dibalik resiko dan tantangan yang besar, juga terdapat peluang yang besar. Tapi memang, sejak awal didirkan, kami mendapatkan tantangan yang luar biasa. Seperti usaha Galeri orang tua, yang ketika awal berdiri mendapat tantangan dari efek perang teluk, di Bali Zoo juga sama.

Pada awal berdiri, sambutan masyarakat sangat antusias, wisatawan asing terus berdatangan. Tapi belum lama menghela nafas lega, tragedi BOM Bali 1 terjadi, selama 6 bulan Bali Zoo mengandalkan pengunjung domestik. Kemudian setelah pariwisata mulai pulih sekitar 2 tahunan, terjadi lagi Bom Bali II, dan efeknya jauh lebih dahsyat. Belum hilang rasa terkejut, hanya selang beberapa jam, pemerintah menaikkan harga BBM hingga 100% lebih waktu itu. Yang membuat daya beli masyarakat runtuh. Inilah rentetang ujian paling berat yang kami hadapi. Kegigihan Ayah yang mampu membawa Bali Zoo bangkit, membuktikan ketangguhannya sebagai pengusaha.

Bagaimana situasinya ketika mulai dikelola oleh Generasi Kedua?

Pertumbuhan sudah semakin stabil, dari sisi internal, mulai ada variasi produk baru, tim manajemen juga semakin solid, apalagi dengan diperkuat oleh para konsultan yang berpengalaman. In House  Training yang semakin banyak, perluasan dan penambahan fasilitas Bali Zoo juga terus dilakukan. Sedangkan dari faktor eksternal, tingkat kunjungan wisatawan asing dan domestik semakin meningkat, pasar baru mulai bermunculan seperti dari Cina, India, Timur Tengah dimana daya beli mereka meningkat karena kurs dolar naik. Saat ini proporsi antara kunjungan wisatawan asing dan domestik itu 55 : 45.

Dimodel bisnis seperti ini, sumber daya manusia (SDM) berperan sangat vital, bagaimana dengan di Bali Zoo?

Itulah sebabnya tantangan internal kami saat ini yaitu meningkatkan mutu SDM, sebagai negara yang sedang berkembang, mutu SDM kita masih kalah jauh dengan negara lain. Saat ini Bali Zoo memiliki 252 karyawan, dan kami tengah mendorong kreatifitas sebagai budaya kerja kita. Terlebih lagi dengan pengunjung Bali Zoo yang banyak diantaranya tamu mancanegara , mereka sangat mengharapkan mutu service dan animal welfare yang tinggi. Itu sebabnya, perusahaan kami terus melakukan pelatihan dan pembinaan dalam rangka meningkatkan profesinalisme karyawan, baik untuk peningkatan SDM dan juga pelatihan untuk animal welfare yang khusus kita datangkan dari Singapura. Karena isu-isu seputar animal welfare juga mempengaruhi bisnis ini. Kalau dari faktor eksternal sendiri, perlambatan ekonomi global kami rasakan sangat berpengaruh, demikian juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan situasi politiknya.

DSC_2608

Adakah kebun binatang yang menjadi referensi acuan saat mendirikan usaha ini?

Singapore Zoo, karena kebun binatang tersebut bisa memberikan pengalaman luar biasa yang menyenangkan dan juga memberikan edukasi kepada para pengunjungnya.

Bagaimana prospek kedepan dari bisnis ini?

Sangat menjanjikan, saya sangat optimis bisa menjadikan Bali Zoo sebagai kebun binatang terbaik di Asia Pasifik, sesuai dengan misi Bali Zoo sendiri, yakni ‘Love, Conserve, Share’. Bali Zoo akan terus mengembangkan program-program baru agar pengunjung selalu merasakan pengalaman berbeda setiap kali datang kemari.

Saat ini kami sedang melakukan banyak pengerjaan proyek baru, seperti Kampung Sumatera, Bali Deer Park dan berbagai program  Animal Release untuk mendukung pelestarian satwa endemic Indonesia. Juga mengembangkan program edukasi untuk anak, seperti yang sudah berjalan yakni Bali Zoo Goes To School, dengan membawa satwa ke sekolah-sekolah untuk diperkenalkan lebih dekat kepada murid-murid. Kami juga memperkenalkan program baru yaitu Breakfast with Orang Utan. Semua ini kami dimana pada tahun 2020, kita mendapatkan 3000 tamu setiap harinya.

Beralih ke soal satwa, hewan apa yang paling sulit perawatannya?

Satwa yang berjenis Primata, karena perlu ketelatenan khusus untuk merawatnya. Mereka ini sangat mirip dengan manusia. Tapi yang biaya perawatannya paling banuak adalah satwa karnivora, yang pakan utamanya daging.

Adakah kesulitasn saat mendatangkan satwa-satwa tersebut?

Kesulitan ketika Bali dinyatakan siaga rabies. Pada tahun 2008 juga ada isu seperti flu babi dan flu burung, ini sangat mempengaruhi proses kamu untuk mendatangkan satwa, karena otomatis keluar masuk binatang dari dan keluar Bali saat itu dibatasi. Dan ada satu harapan saya yang juga belum tercapai, yakni mendatangkan hewan-hewan Afrika ke Bali Zoo.

Apa satwa yang menjadi favorit Anda?

Kuda, karena terlihat anggun dan terhormat. Kuda adalah hewan yang sangat cerdas, dia tidak akan meninggalkan majikannya jika tidak dalam keadaan terpaksa.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri