IMG-20140511-WA0011

Twenty Six Bike – Down Hill

Belasan sepeda nampak menukik menuruni bukit. Di tanah basah yang becek dan terjal, para penunggangnya jeli melihat turunan. Sesekali pasang rem dan berhenti mengayuh. Namun di turunan yang tepat, mereka bisa mengayuhnya dengan kencang dan membawa sepeda mereka melayang bak terbang. Beberapa ada yang kemudian terjatuh, terpelanting dan berguling. Namun, satu dua ada yang mendarat dengan mulus dan sukses. Luka dan lecet menghiasi tubuh sebagian dari mereka. Namun, derai tawa yang lepas kemudian memecah ketegangan. Tidak ada yang merasa kecewa, malah justru ingin mengulang dan terus mencoba. Jalan setapak yang sempit itu, semakin penuh dengan para penunggang “kereta angin” yang kembali melaju.

Itulah aktivitas yang dilakukan oleh Twenty Six Bike [TSB], komunitas sepeda gunung yang kerap menjajal hutan lindung Bedugul. Lincah bergerak di sela-sela pohon pinus yang rapat, track -nya kerap disebut all mountain. Mereka bukanlah orang-orang yang sekadar melampiaskan hobi gowes semata, namun para penantang adrenalin yang ingin menguji keberanian, menuruni turunan terjal yang curam dengan sepeda. Kebanyakan dari mereka memang menyukai aktivitas seperti downhill, cross country, dan free ride. Dengan sepeda yang memang didesain untuk keperluan masing-masing kegiatan tersebut.

Menuruni bukit terjal dan menantang nyali, meluncur hingga 80 km per jam di turunan yang curam di lereng pegunungan dirasa menjadi sensasi tersendiri bagi para penggemarnya. Itu sebabnya sepeda untuk downhill dirancang khusus dengan full supension di bagian depan dan belakang. Kemudian peredam kejut berfungsi menjaga kontrol. Kekuatan menahan beban dan traksinya bisa mencapai 7 inci. Juga dilengkapi dengan piranti rem cakram.

Dengan satu chain wheel atau piringan bergerigi yang berada pada chain set (komponen crank). Sepeda jenis ini tak bisa dipakai menanjak. Untuk menaiki bukit, sepeda diangkut dengan mobil. Namun bagi mereka yang merasa downhill ekstrem, maka cross country bisa menjadi pilihan. Bersifat  lintas alam atau free ride yang jauh lebih rileks menikmati alam pegunungan.

Hobi ini tidak terbilang murah, terlebih untuk downhill. Untuk sebuah sepeda gunung rakitan, untuk batangan sepedanya saja harganya bisa mencapai Rp 9 juta. Setelah dirakit utuh sebentuk sepeda, harganya bisa mencapai sekitar Rp 15-20 juta. Namun untuk pemula, bisa mencoba dengan membeli sepeda gunung standar yang belum dimodifikasi. Harganya berkisar antara Rp 3-50 juta. “Kalau sudah hobi, harga tersebut enggak mahal kok,” kata Oemar Muchtar, salah satu anggota komunitas TSB yang sudah berkali-kali mengganti sepedanya agar lebih tok cer. Selain sepeda, peralatan maupun pelengkap penunggangnya pun tak boleh sembarangan. Helm full face dan body protector tak boleh ketinggalan.

Kegiatan ini mulanya digeluti sejumlah penggemar Mountain Bike ditahun 1976 oleh para clunker kawasan Marin County, California. Dan saat ini tengah digemari oleh kalangan menengah perkotaan tak terkecuali di Denpasar.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri