ud chandra raya

UD. Chandra Raya “From One Truck To Be Hundreds

Di atas tanah 14 are dan 28 are tersebut, Putu Tjandra Putra mendirikan mimpi-mimpinya. Dua bangunan yang berlokasi di bilangan Gatot Subroto Barat menyimpan ribuan kayu yang siap diedar ke seluruh penjuru Pulau Dewata.
Tentu demi memperkokoh rumah idaman Anda.

“… Saya dulu itu nggak cuma sopir.
Saya itu juga tukang pikul kayu, penjaga gudang, administrasi, hingga marketing. Jadi saya tahu dasar-dasarnya.
Sehingga saat memilih bekerja sendiri dan mendirikan perusahaan ini, saya sudah tahu ritmenya.

UD. Chandra Raya berkembang pesat di dunia wood distributor & retail. UD. Chandra Raya adalah hasil dari kerja keras, tetesan keringat, kobaran mimpi seorang Putu Tjandra Putra. Pria kelahiran 16 Juni 1960 ini masih ingat masa-masa dimana Chandra muda harus banting tulang dari titik nol hingga akhirnya mampu meraih kesukesan seperti sekarang. Tjandra Putra lahir dari keluarga yang begitu sederhana di sebuah desa kecil daerah Pupuan, Tabanan. Ayahnya, I Made Widiarta adalah seorang sopir bus, sementara Ibunya, Ni Made Chandrawati seorang rumah tangga pada umumnya.

Kondisi finansial keluarga yang begitu lemah tak mampu menyekolahkan Chandra ke pendidikan yang lebih tinggi. “Saya SMA di Denpasar. Setelah tamat SMA saya langsung belajar jadi sopir truk,” kenangnya. Sebagai anak paling sulung dari 8 bersaudara, Ia pun bertekad ingin membiayai penuh sekolah adik-adiknya hingga mendapatkan pendidikan yang layak. Ia pun akhirnya bekerja pada perusahaan distributor kayu pada tahun 1981. “Semangat saya sangat membara saat itu. Mungkin karena semangat orang dari desa yang memang terasa sangat lebih di diri saya,” ungkapnya.
Keputusan besar pun akhirnya diambil Chandra pada tahun 1987, dimana Ia memilih untuk berhenti dari tempat kerjanya. Ia ingin merintis usahanya sendiri dari nol. Saat itu tanggal 1 Juni 1987, Chandra mengawali karirnya seorang diri sebagai sopir truk freelance. “Bisa dibilang nekat saat itu. Saya hanya bermodalkan pengalaman dan jejaring dari tempat kerja dulu,” akunya. Pria yang berdomisili di perumahan asri Teras Ayung B 16 ini pun mengaku modal awalnya didapatkan dari Ibunya yang meminjamkan uang sejumlah 800 ribu rupiah, dan dari adik-adiknya sebesar 1,5 juta rupiah. Jadilah ia menyewa sebuah truk yang digunakannya untuk mengangkut kayu pulang-pergi dari Denpasar ke Surabaya.

Pria yang memiliki hobi yoga ini pun tak menyangka penghasilan per bulannya sebagai seorang freelance setara dengan satu tahun gaji di tempat kerja sebelumnya. “Ini yang memotivasi saya untuk terus maju dan maju. Saya ingin jadi orang yang maju,” sambungnya. Chandra selalu menekankan bahwa Ia sangat beruntung pernah bekerja di sebuah perusahaan kayu, karena pengalaman dari sanalah yang mampu membekali selama bekerja untuk dirinya sendiri. “Masih ingat, saya dulu itu nggak cuma sopir. Saya itu juga tukang pikul kayu, penjaga gudang, administrasi, hingga marketing. Jadi saya tahu dasar-dasarnya. Sehingga saat memilih bekerja sendiri dan mendirikan perusahaan ini, saya sudah tahu ritmenya,” terang ayah dari dua putra ini.

Pada rentang tahun 1988-1991, Ia pun berhasil menambah armada truk sejumlah 10 buah berkat penghasilan yang dikumpulkannya. Di tahun 1991, Ia mulai merintis usaha distributor kayu sendiri yang merupakan cikal bakal UD. Chandra Raya. Menurut Chandra, usaha distributor kayu pada zamannya saat itu masih terbilang bisnis yang menggiurkan. Persaingan belum ketat serta geliat era pembangunan merupakan dua faktor yang mendorong usahanya untuk maju. “Beda dengan sekarang. Kompetitor sudah banyak serta persaingan sudah mengarah tidak sehat” jelasanya. Hal itu sangat terasa dari aktivitas distribusi, dimana dulu Ia bisa membawa 20.000 kubik kayu per tahunnya ke Bali, sementara beberapa tahun belakangan ini hanya 10.000 kubik saja.

UD. Chandra pun terus berkembang. Armada truk pun terus bertambah. Dari tambahan 50 buah truk, kemudian berlipat ganda menjadi 100 buah lebih truk. Bahkan saking banyaknya truk yang dimiliki, Chandra sempat mendapat reward dari Mitsubishi dalam bentuk tur gratis ke Jepang. Di era 90-an, UD. Chandra terbilang perusahaan distributor kayu terbesar di Bali saat itu. Kayu-kayu pun didatangkan dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Irian Jaya. Namun Chandra mengaku perusahaannya lebih fokus untuk mendatangkan kayu-kayu dari Kalimantan Timur. Jenis-jenis kayu yang didatangkannya cenderung untuk bahan bangunan seperti Kayu Kamper, Keruing, Meranti, Bengkiray, dll. Selain itu UD. Chandra juga melayani angkutan Denpasar, Surabaya, Malang, Yogya, Bandung dan Jakarta.

Menanam Aset
Berkembang pesatnya UD. Chandra Raya membuat Chandra tidak hanya berkutat pada bisnis kayu. Suami dari Dra EC Henny Handayati ini pun mulai menumbuhkan aset-aset lainnya. Tercatat usahanya kini meliputi property, molding, somil, pertokoan, angkutan, rumah burung wallet, perkebunan kopi, toko skateboard, hingga perbankan. “Khusus untuk toko skateboard ini merupakan kolaborasi saya dengan putra saya, dimana kebetulan putra saya itu punya hobi skate,” tuturnya.

Dari sekian banyaknya usaha, Chandra mengaku lebih tertarik pada bidang property meski ia mengakui bidang distributor kayu masih menjadi skala prioritas utamanya. Ketertarikannya dalam berinvestasi di bidang property muncul semenjak melihat bos di kantor terdahulunya itu doyan beli tanah di sana-sini “Dari sana saya belajar dan ikut akhirnya beli aset. Saya ingat tanah yang pertama kali saya beli itu pada tahun 1993,” ujarnya. Chandra pun lebih getol berinvestasi di bidang property pada tahun 2001. “Investasi lewat tanah itu bisa dibilang passive income saya. Tak pernah ada yang tahu bagaimana drastisnya lonjakan harga property sekarang. Yang dulunya saya beli puluhan juta bisa terpasang saat ini dikisaran ratusan juta bahkan miliaran. Entah itu di kota, desa, hingga kabupaten sekali pun,” paparnya.

Beberapa propertinya tersebar di seputaran Gatot Subroto, Sunset Road dan Canggu, dimana kebanyakan dikontrakan sebagai ruko dan tempat tinggal. Kini Chandra juga tengah fokus dalam mendirikan beberapa properti di Gunung Salak serta mempersiapkan aset villa nya di seputaran Kerobokan. Tahun depan, empat unit pertokoan pun siap diluncurkan. “Saya ingin mewujudkan property villa saya yakni Trinity Living. Rencananya akan ada 42 unit villa dan 57 kamar. Semoga bisa cepat selesai,” ungkapnya. Banyak pekerjaan rumah menanti Chandra ke depan, tidak hanya pembangunan villa, tetapi juga ruko hingga sebuah instansi perbankan yang rencananya akan berkantor di Denpasar.

Di balik puluhan aset dan bisnis yang telah dibangunnya, Chandra juga memiliki mimpi besar untuk kedua putranya. “Saya memang dari awal mengarahkan anak saya untuk turut serta terjun ke bisnis. Melihat mereka mandiri dan bisa meneruskan bisnis keluarga adalah cita-cita saya,” pungkasnya sambil menutup wawancara dengan Money & I Magazine.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri