IMG_9203

Warung Hade, Sajian Timur Tengah ala Mojang Bandung

Dalam bahasa Sunda, Hade berarti “bagus”. Namun bagi Warung Hade, bukan sekadar label “bagus” yang ingin dicapai, tetapi juga menjadi unik dan bersahabat bagi pengunjungnya..

Sebuah tenda berwarna oranye dengan deretan kursi dan meja kayu bergaya vintage mengundang perhatian di salah satu sudut Jalan Raya Kuta. Beberapa orang terlihat bercakap-cakap sambil menikmati hidangan Roti Canai dan Teh Tarek di sana. Sebuah konsep dapur terbuka juga menjadi salah satu pemandangan menarik lainnya. Pengunjung dapat menikmati atraksi chef yang tengah meracik Teh Tarek serta mencium aroma masakan yang baru diolah. Suasana seperti inilah yang akrab ditemui di Warung Hade.

Belum habis sampai di sana, Nia Hernawati selaku owner mengajak kita menelusuri keindahan interior Warung Hade yang tersembunyi di satu sudut ruangannya yang lain. Berbagai ornamen rider dan pajangan unik telah siap menyegarkan mata. Seperti lukisan dan t-shirt fanbase dari merek brand motor gede ternama hingga pernak-pernik eksentrik semacam tempat tisu berbentuk tengkorak dan bentuk antik lainnya. Nia mengatakan bahwa sebagian besar furnitur dan kelengkapan interior yang menghiasi Warung Hade adalah kolaborasi barang bekas serta barang kreasinya sendiri. “Konsep dekorasinya memang cenderung mengangkat tema rider, karena saya pribadi memang menyukai segala pernak-pernik rider,” terangnya.

Aneka kreasi Roti Canai dan Teh Tarek adalah primadona di Warung Hade. Tak heran apabila restoran ini lebih dikenal spesialiasasi untuk kedua jenis menu tersebut. Pada Roti Canai Hade, Nia menawarkan racikan bumbu yang pas untuk lidah orang Indonesia. Begitu pula dengan Teh Tarek ala Warung Hade punya cita rasa unik tersendiri. Wanita yang hampir satu dekade menetap di Bali ini mengaku butuh waktu dua tahun untuk menemukan racikan Teh Tarek yang istimewa. Teh Tarek kreasinya merupakan kombinasi cita rasa dari Teh Thailand, Malaysia, dan Indonesia. “Saya iseng-iseng campur ketiga teh tersebut dan suami bilang ini rasanya enak dan beda. Hampir sepuluh gelas saya minum untuk mendapatkan taste yang sempurna,” tambahnya.

Nia memang kerap turun sendiri untuk urusan dapur Hade. Sesekali dibantu oleh suaminya, Budi Memory yang notabene juga berlatarbelakang chef. Keduanya tidak hanya bereksperimen pada Canai dan Teh Tarek, tetapi juga mampu menghadirkan menu-menu khas Nusantara. Sebut saja Sop Buntut, Soto Daging, dan Ayam Bumbu Serai yang juga dinanti-nanti oleh pelanggan setianya. “Semua menu di sini memang berangkat dari apa yang senang kita makan. Menunya rumahan banget. Semua bahan-bahan yang kami gunakan fresh dan tanpa MSG. Dijamin sehat,” ucapnya. Harga rata-rata menu di Hade pun dibuat cukup bersahabat, mulai kisaran Rp 10.000 hingga Rp 105.000.

Semenjak didirikan pada tahun 2010, Warung Hade perlahan-lahan menemukan pelanggan setianya sendiri. Sebut saja para komunitas rider, kalangan mahasiswa dan pelajar, keluarga, kalangan pebisnis, hingga wisatawan sekalipun kerap melepaskan penatnya di sini. Nia yang berasal dari Bandung tidak pernah menyangka bisa membuka peluang bisnis kuliner di Tanah Dewata. Wanita kelahiran Juni 1981 ini menekankan bahwa eksistensi Warung Hade tidak hanya berangkat dari kecintaan kuliner, tetapi juga semangat berkumpul komunitas.

“Banyak komunitas dan anak muda yang kemari untuk ngobrol, berjejaring, dan bertukar pikiran. Tidak hanya dengan temantemannya saja, tetapi juga saya. Kami bertukar ide dan saling memberi semangat. Di awal-awal warung ini didirikan, beberapa dari mereka juga ikut berkontribusi di dalamnya,” katanya. Bahkan, Nia pun tanpa segan menawarkan kesempatan bagi kawula muda yang ingin magang ataupun menumpahkan kreativitasnya di Warung Hade. Ini yang membuat Hade tak sekadar restoran atau tempat nongkrong, tetapi juga “rumah”.

Kepincut Bali

Sekitar awal tahun 2000 menjadi tahun perkenalan Nia dengan Pulau Dewata. Ia hanyalah seorang pelancong pada umumnya yang hanya ingin menikmati budaya dan pariwisata Bali. Namun di perjalanannya, perempuan yang punya hobi olahraga dan traveling ini malah kepincut dengan atmosfer Bali yang tenang. Ia pun memantapkan hatinya untuk menetap dan mencari pengalaman kerja di Pulau Seribu Pura ini.

“Lantas saya melamar di dua hotel di Kuta. Langsung diterima di kedua hotel tersebut, namun akhirnya saya harus memilih salah satunya. Sebenarnya kenapa saya apply kerja di hotel adalah untuk mencari relasi dan mengetahui Bali lebih dalam. Kalau saya tinggal di sini, berarti otomatis saya harus mencintai lingkungan, budaya, dan orang-orangnya juga,” tutur wanita yang telah dikaruniai dua anak ini.

Sejatinya, Nia bukan “anak kemarin sore” di dunia bisnis. Wanita lulusan Sastra Jepang Universitas Padjajaran ini telah lebih dahulu mendirikan sebuah toko barang-barang vintage di Bandung bersama suaminya. Toko yang didirikan sejak tahun 2006 tersebut bernama Saddle, di mana mengekspor barang-barang vintage berbahan kulit dan fiber. “Usaha ini memang fokus untuk ekspor ke luar Indonesia saja, karena kami memang sudah punya kerjasama dengan pihak luar. Kami sering ikut pameran dan menemukan banyak relasi penting di sana,” ujar wanita berambut pendek sebahu ini. Barang-barang vintage kreasi mereka pun sukses diekspor ke berbagai negara di Eropa.

Kalau usaha di bikin ruwet bakalan susah ngejalaninnya. tapi kalau hobi dan kita senang pasti bakalan enak ngejalaninnya. 

Sementara itu di Bali sendiri, Nia benarbenar mengawali kewirausahaannya dari nol. “Yang di Bandung tetap dijalankan oleh suami. Sementara saya di sini mencoba mencari peluang lain dan mencari relasi tentunya,” paparnya. Mulai dari jasa penyewaan motor hingga laundry dilakoninya secara paruh waktu di samping pekerjaan utamanya di hotel.

Pada tahun 2006, ia dan sang suami pun memutuskan untuk mendirikan anak perusahaan Saddle di Bali dengan nama Crow Bar (yang kini berganti nama BM). “Awalnya karena banyaknya permintaan dari rekan-rekan relasi saya di Bali akan produk Saddle. Jadi kami pikir enggak ada salahnya untuk bikin satu cabang di Bali,” sambungnya. Nia juga menceritakan bahwa dirinya lah yang pertama kali mempopulerkan helm tengkorak yang digandrungi oleh wisatawan dan masyarakat lokal di Kuta. Salah satu produk Saddle tersebut awalnya tanpa sengaja diperlihatkan kepada salah satu teman kerjanya di Bali.

Akhirnya, BM yang fokus menjual merchandise dan clothing untuk para pencinta dan penikmat motor gede itu pun berhasil meraih target pasarnya. Di saat itulah ide untuk mendirikan sebuah tempat tongkrongan baru di sebelah BM tercetus. “Awalnya saya hanya iseng bikin makanan untuk teman-teman yang notabene pelanggan di toko suami saya tersebut. Menariknya, mereka mendorong saya untuk buka warung di sana untuk tempat kongkow. Sebenarnya saya rada pesimis, tapi akhirnya secara perlahan saya coba peluang ini,” ungkapnya sumringah.

Bagi Nia, mengelola dua bisnis berbeda sekaligus, yakni clothing dan kuliner bukanlah perkara yang sulit, asalkan ditekuni secara serius dan fokus. “Kalau usaha itu dibikin ruwet, ya bakalan susah ngejalaninnya. Tapi kalau memang hobi dan kita senang dengan apa yang kita kerjakan, pasti tetap bakalan enak ngejalaninnya, sekalipun ada banyak tantangan yang akan berdatangan,” pungkasnya menutup wawancara dengan Money & I Magazine.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri