IMG_6999

Yoga Arizona – Kreator Video yang Ingin Tampil di Belakang Layar

Dulu niatnya mau jadi artis, setelah beberapa kali gagal casting, akhirnya pemuda yang satu ini bikin channel televisinya sendiri. melalui YouTube, impiannya tercapai, bukan hanya populer, tapi juga menghasilkan uang dari karya-karyanya sebagai Kreator Video. Inilah kisah Yoga Arizona, salah seorang kreator video yang sukses mencuri perhatian publik melalui video-video jenaka. Berawal dari video dubsmash yang ia unggah ke Instagram, kini Yoga memiliki 300 ribu lebih followers instagram dan 21 ribu subscriber YouTube. Tak hanya itu, ia juga sering diundang menjadi bintang tamu dalam acara talkshow televisi dan mengisi berbagai seminar.

Pria berkacamata yang akrab disapa Kuka ini kerap menirukan gaya selebriti dalam video dubsmash-nya, semisal Syahrini, Cinta Laura hingga Deddy Corbuzier. Walhasil, aksi kocak Kuka tersebut mengundang tawa bagi penontonnya.
menjadi kreator video tidaklah mudah. Membuat konten agar banyak disukai orang perlu memerhatikan berbagai hal, mulai dari menentukan ide cerita, menghafal naskah, hingga proses editing video. Semakin menarik video yang dibuat, maka akan mengundang lebih banyak viewers atau pemirsa. Dengan viewers yang melimpah tentu akan mendatangkan income bagi sang kreator.

Dari video tersebut Yoga juga mendapat income yang tidak bisa dibilang sedikit. Setiap bulannya ada saja klien yang meminta Yoga untuk memasarkan produk di instagram. Meski demikian tidak lantas Yoga menerima semua iklan yang masuk. Sebab menurutnya, terlalu banyak iklan dalam akun instagram miliknya akan berdampak terhadap citranya. “Kalau terlalu banyak iklan nanti orang-orang menjadi jenuh, makanya aku batasi,” ujarnya.

Selain membuat video, Yoga juga punya keinginan membuat production company sendiri. Karena menurut dia, tak selamanya bisa berada di depan layar. Ia juga lebih senang berperan di balik layar. Totalitas Yoga dalam video-video karyanya telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu kreator sukses. Tiap karyanya kini selalu ditunggu-tunggu. untuk lebih mengetahui kisah Yoga Arizona, berikut adalah petikan wawancara dengannya:

Bisa diceritakan bagaimana mengawali profesi sebagai kreator video?

Dulu kan aku sering ikut casting, tapi sering ditolak. Katanya untuk bisa jadi artis harus punya banyak followers dulu. Nah dari situlah aku coba bikin video dubsmash lucu-lucuan biar banyak orang yang kenal aku. Dan ternyata banyak yang merespon positif.

Konten video yang bagus dan menarik itu seperti apa?

Intinya jangan ikut-ikutan tren. Misalnya lagi ramai ini, ikut ini. Lagi ramai itu, ikut itu. Kalau kita lihat kreator lain rata-rata mereka untuk mencari follower atau subsciber, mereka rela ngikutin ini, ngikutin itu agar bisa menambah viewers. Kalau aku lebih mengutamakan kualitas. Jadi harus sesuai sama konten awal yang aku bangun, entah itu parodi atau vlog (Video Blog). Aku orangnya gak suka ngeramein yang sudah ada, tapi bikin ramai dengan sesuatu yang baru. Jangan mengikuti arus. itulah yang bakal jadi ciri khas kita. Dan fokus aja ke diri sendiri.

Sekarang followers di Instagram sudah ada 300 ribu orang lebih ya?

Sebenarnya di instagram itu 400 ribu ya, karena aku jarang upload jadi turun, perharinya bisa sampai 1000 followers.

Kenapa sekarang lebih sering membuat video di YouTube?

Karena medianya lebih luas, dalam artian aku bisa bikin video yang durasinya lebih panjang daripada Instagram. Tapi ternyata aku pikir ketika aku masuk ke YouTube, memang berbeda pasarnya dari Instagram. Aku kayak mulai dari nol lagi di YouTube.

Sejauh ini sudah ada berapa video di YouTube?

Ada 32 video.

Bagaimana dengan Instagram?

Orang-orang banyak yang bertanya, “Kapan bikin video lagi kak?” Tapi aku sengaja tahan dulu yang di instagram. Aku mau fokus ke Youtube. Tapi nanti ketika ada video yang di-upload ke YouTube, promonya di Instagram juga. Jadi memang ingin mencoba di ranah Youtube. Karena lebih sulit mencari subscriber YouTube daripada followers di Instagram.

Apakah ada tim yang membantu produksi video?

Pertama-tama memang aku sendiri yang membuat video. Tapi kalau aku bikin video yang membutuhkan tim, aku biasanya mengajak teman untuk dimintai bantuan. Tapi semakin kesini aku berpikir tidak bisa bekerja sendiri. Jadi aku memang punya tim yang bisa buat kerjasama.

Bagaimana komentar orang tua tentang video yang dibuat?

Kalau ayahku sih fun aja. Mamaku juga fun aja. Selama itu tidak merugikan orang lain, kedua orang tua tidak mempermasalahkan itu. Karena pada dasarnya aku membuat konten itu yang related sama yakni kehidupan manusia.

Ada komentar negatif tentang video yang dibuat, bagaimana menyikapi ini?

Kalau dulu awal-awal iya. Tapi kelamaan nggak sih. maksudnya kayak “ya sudahlah cuek saja”. Kalau dulu namanya di-bully kan pasti sakit hati dong, apalagi di media sosial, yang semua orang bisa lihat. Awal-awal kayak sempat males, tapi

lama-lama mulai jalanin aja, ngapain juga diurusin.

Banyak yang tanya, apakah dengan membuat video ada income ?

Dulu memang nggak dapat apa-apa, tapi sekarang bisa jadi mata pencarian juga kalau memang kita belum dikenal publik, apa yang kita bikin ya buat senang-senang saja. Istilahnya kita bikin 50 atau 100 video baru bisa dikenal publik, barulah menarik klien atau produk iklan masuk. Jadi pada dasarnya nggak bisa kita bikin video kemudian langsung mendapatkan penghasilan.

Rata-rata mendapat income berapa dalam sebulan?

Nggak tentu sih. Jadi begini, kadang dalam satu bulan produk iklan yang masuk banyak, kadang cuma ada satu, kadang nggak ada sama sekali. Tergantung dalam satu bulan itu ramai atau tidak. Jadi perinciannya dalam satu bulan aku bisa dapat hampir Rp. 50 Juta, tapi kalau lagi sepi paling Rp. 10 Juta. Kalau akhir tahun seperti ini ramai (wawancara ini dilakukan kami akhir tahun 2016 lalu). Klien butuh campaign Natal, campaign Tahun Baru jadi banyak gitu loh. Tapi justru kalau lagi ramai itu mengkhawatirkan juga, karena aku justru fokus mengurusi produk iklan, sedangkan kita nggak memikirkan konten. Karena pada dasarnya kalau tidak dibarengi konten, publik pasti berpikir “ahh iklan mulu, iklan terus”. Itu sih kadang ada enaknya, kadang nggak enak.

Jadi sekarang iklan yang masuk dipilih?

Kalau dulu, aku ambil. Entah itu endorse, entah itu apa pun di Instagram, pokoknya yang menghasilkan uang aku ambil. Tapi sekarang rupanya beberapa klien juga memperhatikan itu, katanya “oh ini instagramnya nyampah terlalu banyak endorse”. Jadi sekarang aku benar-benar selektif soal iklan, aku fokus mengerjakan produk yang bagus. itu juga akhirnya yang bisa meningkatkan value kita kan. Kalau semua diambil memang sih banyak uangnya, tapi jadi terlihat serakah, dan akhirnya konten jadi nyampah. memang penghasilannya jadi nggak sebanyak dulu, tapi secara value lebih enak seperti itu.

Ada yang me-manage itu?

Kalau aku pada dasarnya lebih senang manage sendiri. Memang sih ribet bertemu klien, mengurus kebutuhan surat ini-itu. Tapi aku ingin menjaga langsung hubungan dengan mereka. Makanya lebih senang aku urus sendiri. Jadi aku bisa bertemu secara langsung, dan tahu karakter klien seperti apa. Jadi hubungan timbal baliknya juga ada. Intinya aku nggak suka yang terlalu profesional dan sistematis banget.

Masih ada keinginan nggak jadi artis?

Semakin kesini aku justru ingin kuliah di perfilman. Karena pada dasarnya aku lebih suka di belakang layar sebenarnya daripada di depan layar. memang awalnya di depan, tapi aku ngerasa passion aku di belakang layar. Entah itu direct atau ambil gambar segala macam aku lebih tertarik ke situ. Walaupun pada dasarnya Ayahku sendiri punya sekolah akting, jadi seperti berlawanan antara di depan layar sama belakang layar. Jadi, saat ini aku sedang memikirkan cari biaya buat melanjutkan studi.

Rencana ingin melanjutkan studi di mana?

Kalau rencana inginnya di Columbia University, tapi kalau memang nggak bisa di sana, paling ya di New York University. Makanya sekarang lagi nabung cari duit dulu untuk biaya sekolah. Dan nggak melulu dari proyek bikin video, kadang aku membuat konsep untuk produk. Jadi kalau ada klien yang minta dibuatkan video, aku yang membuat konsep dan direct, jadi nggak harus aku di depan layar.

Selain membuat video ada kegiatan lain?

Biasanya kalau di sekolah akting ayahku, membantu beliau menyiapkan materi untuk kelas. Jadi aku menyiapkan jadwal dan materi untuk kelas akting. Tapi kadang kalau aku ada kerjaan di luar, dan aku nggak pulang hari itu, aku nggak bisa bantu kelas. Jadi kalau soal kerjaan aku nggak ada kerja yang memang kerja kantoran gitu.

Apa ada niat membangun bisnis lainnya?

Sedang ingin mencoba membuat production company sendiri. Saat ini mungkin ada YouTuber atau Vloger yang membuat video untuk kebutuhan pribadi. Jadi nantinya aku yang bantu mengurusi produksi videonya. Terus aku ingin mencakup bisnis yang lebih luas lagi, seperti punya production team, kreatif atau talent. Karena di sekolah ayahku, muridnya fokus di depan layar, entah itu sinetron atau iklan. Nah aku ingin mengajak mereka ke ranah digital terutama YouTube. maka dari itu aku sedang mencoba membangun sebuah company production. Karena tidak selamanya aku berada di depan layar, aku juga ingin mengajak teman-teman terlibat dalam hal ini.

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri