IMG_3402

Yoshida “Ochie” Chandra Si Pecinta Bahasa dan Mawar Merah

Seorang pria berkewarganegaraan asing tengah asik melontarkan beberapa kosa kata bahasa Indonesia di hadapan seorang pria lokal. Meski terdengar kaki dan tersendat-sendat, si bule tetap percaya diri dalam menuntaskan kalimat demi kalimat. Sementara itu, si pria lokal sesekali menuntun dan memperbaiki pelafalannya.

Pemandangan seperti inilah yang kerap mewarnai aktivitas di Cinta Bahasa, sebuah sekolah bahasa yang fokus pada program  BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Di sekolah ini pula, seorang Yoshida Chandra merintis impiannya di bidang bahasa dan pendidikan. Lewat sekolah yang didirikannya sejak 2010 silam tersebut, wanita yang akrab disapa Ochie ini membantu kalangan ekspatriat dan turis yang tengah berlibur di Bali untuk bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia.

Kepindahan Ochie ke Ubud pada tahun 2009 silam adalah tonggak awal ide Cinta Bahasa tersebut bertunas dan sekaligus perkenalannya dengan lingkungan eskpatriat setempat. Dalam komunitas orang asing tersebut, ia mendapati sebuah fenomena, dimana sebagian besar rekan ekspatriatnya jarang untuk sekadar mencoba-coba menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.”Setiap bertemu mereka, aku harus ngomong dengan bahasa inggris, kok lama-lama aku seperti tidak berada di Indonesia saja.  Setelah aku tanya ke mereka, akhirnya baru tahu kalau mereka merasa kurang pede dan kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia,”jelas wanita kelahiran 16 juni 1982 ini.

Ochie juga mengungkapkan bahwa kebanyakan rekan ekspatriatnya mengaku bahwa saat itu sekolah khusus BIPA hanya terkonsentrasi di Yogyakarta. Sementara itu, mereka merasa keberatan meninggalkan Bali lantaran banyak pekerjaan mereka yang tak bisa dilepaskan di sana. “Meski mereka punya teman Indonesia yang mengajari mereka bahasa, tapi itu kan hanya sebatas di permukaan saja. Belum bisa terlalu mendetail dan mendalam,”tambahnya.

Bagi Ochie sendiri akan terdengar lucu, apabila ada orang asing yang bekerja dan menetap lama di Indonesia, tetapi tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Menurutnya, adanya keinginan untuk mempelajarii dan menggunakan bahasa Indonesia sama halnya merupakan bentuk penghargaan orang asing terhadap budaya kita. Semenjak itulah, Ochie bersama suaminya Stephen DeMeulenaere bertekad untuk mendirikan sekolah khusus BIPA di Bali. “Awalnya aku dibantu sama salah satu sekolah BIPA di Yogyakarta untuk menyusun kurikulu, kami. Kami rancang silabus dan bikin buku sendiri. Enggak mau pakai materi orang lain, karena saya ingin mengajarkan bahasa Indonesia yang sifatnya lebih informal atau bahasa sehari-hari. Jadi mereka enggak akan merasa kaku, ketika mempraktekannya denga orang lokal,”terang wanita yang berdomisili di wilayah Kedewatan ini.

Sebelum memiliki basecamp-nya sendiri di Jalan Raya Campuhan – Sanggingan, Ochie mengawali Cinta Bahasa lewat konsep kelas private serta bekerjasama dengan beberapa institusi pendidikan dan seni di daerah Ubud.” Awalnya kita buka kelas malam dulu dan kita tawarkan ke teman-teman ekspatriat di lingkungan kami. Waktu itu yang ngajar masih tiga orang. Bisa aku, suamiku, atau temanku Bude Novi. Kita menggunakan flash card yang berisi kosa kata bahasa Indonesia, ketika belajar di luar kelas”, ucapnya.

Lambat kaun, permintaan untuk belajar bahasa Indonesia pun mengucur deras. Ochie bersama suaminya pun mulai membangun sistem manajemennya yang lebih kuat dan terus memperbaharui kurikulum serta metode pengajaran mereka. Mereka juga mulai memperkuat pemasaran di dunia maya. Dari yang awalnya hanya kelas malam, kini sudah mampu menawarkan kelas-kelas dengan variasi waktu dan tingkatan. Cinta Bahasa menawarkan kelas beginner, kelas intermediate, hingga kelas advance.

Tak hanya itu,Cinta Bahasa kini telah mampu merangkul enam belas pengajar dengan tambahan lima orang admin di dalamnya. Bahkan Cinta Bahasa tidak hanya “bermain” di pangsa pasar Ubud saja, melainkan berekspansi ke beberapa daerah pariwisata lainnya, seperti Sanur, Kuta dan Canggu. “Sejauh ini Ubud dan Sanur cukup lumayan pangsa pasarnya. Di beberapa  kesempatan, klien kita juga datang dari kalangam militer dan diplomat Australia, Eropa hingga Amerika,”tutur wanita berdarah Padang ini.

 

ADANYA KEINGINAN ORANG ASING UNTUK MEMPELAJARI DAN MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SAMA HALNYA MERUPAKAN BENTUK PENGHARGAAN MEREKA TERHADAP BUDAYA KITA.” – OCHIE

 

Untuk ke depannya, Cinta Bahasa ditargetkan akan segera berekspansi ke Australia. “Sebelumnya, kami memang sudah menjalin banyak kerjasama dengan beberapa sekolah di Australia. Ini membukakan peluang kami untuk sekalian ekspansi ke sana”, ungkap Ochie.

Sementara itu, diberlakukannya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) oleh pemerintah Indonesia untuk bereskpatriat yang ingin memperpanjang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) juga dinilai Ochie akan memberi peluang baik lainnya bagi Cinta Bahasa di tahun mendatang.

Out of the Box

Meski mengantongi gelar S1 Sastra Inggris di Universitas Andalas, Ochie bertekad untuk mencari pekerjaan di luar dari “kotak karir” lulusan Sastra Inggris pada umumnya. “Aku kuliah di Sastra Inggris , karena memang suka mempelajari bahasa. Banyaknya yang nyaranin kalau sudah ngelamar jadi guru, penerjemah atau tour guide saja. Tapi aku enggak mau. Aku maunya di luar dari kotak itu”, ungkapnya. Ochie percaya masih banyak peluang karir lainnya di luar sana yang membutuhkam kemampuan  dari jurusannya.

Alhasil berkat tuntutan saudari kembarnya, wanita penyuka traveling ini pun hijrah dari kota asalnya Padang ke Jakarta untuk melamar posisi copywriter di sebuah perusahaan periklanan. “Jujur aku awalnya buta banget sama dunia advertising. Tapi dasar aku orang nya nekat, jadi berani untuk apply. Meski dari wawasan di bidang ini, aku benar-benar zero, tapi kantor sangat sabar melatih aku sampai bisa. Dan aku pun mulai suka dengan dunia advertising ini”, jelasnya.

Hampir enam tahun, Ochie menggeluti profesi copywriter, bahkan ia sempat mencicipi beberapa advertising agency ternama di Jakarta. Sayangnya, pada suatu ketika, ia memutuskan untuk berhenti dari dunia tersebut. “Jujur saja aku enggak kuat dengan jam kerjanya. Bayangkan kamu pulang kerja jam 4 pagi dan sudah harus balik ke kantor lagi jam 10 pagi. Apalagi jika sudah berkeluarga nanti, tentu tidak sehat dalam hal membagi waktu. Kalau terus-terusan seperti itu, rasanya tidak bisa mencapai kreativitas yang diinginkan,” pikirnya. Meski begitu, Ochie sangat berterima kasih kepada dunia periklanan yang telah memberikan banyak pengalaman berjejaring, kerja tim, dan meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa.

Selepas dari dunia periklanan, Ochie kembali mencoba mengasah kemampuannya di bidang tulis menulis dengan melamar sebagai kontributor freelance untuk dua majalah internal bank. Ternyata menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Ochie untuk bisa menulis sebuah artikel panjang. “Memang base aku sendiri adalah bahasa, sehingga egoku sedikit menggampangkan pekerjaan ini. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Aku hampir ditampar oleh sebuah quote dan baru sadar kalau tulisan bahasa Indonesiaku masih kacau, untuk lolos sebagai sebuah artikel ya,”ujarnya dengan sedikit tawa. Semenjak itulah, Ochie mulai giat melatih kemampuan tulis Bahasa Indonesia. KBBI pun jadi sahabat barunya.

Tanda-tanda minat Ochie untuk terjun ke dunia pendidikan memang belum terlihat jelas saat itu. Namun perkenalannya dengan dunia tersebut sudah terjadi, meski tanpa disengaja. Tahun 2008, Ochie sempat diminta oleh Universitas Bina Nusantara untuk mengisi kelas periklanan untuk jurusan Sastra Inggris. “Waktu itu mereka memang butuh praktisi di bidang periklanan, sehingga tawaran itu pun datang ke aku. Awalnya cuma kelas advertising saja, tapi kemudian lanjut manage kelas TOEFL dan desktop publishing,” terangnya. Dari aktivitasnya sebagai dosen tamu itu lah, ia mulai belajar tentang bagaimana menyusun kurikulum dan silabus. Ochie pun mulai terbiasa dengan ritme mengajar.

Tahun 2009 mempertemukan Ochie dengan Ubud. Awalnya ia hanya berniat untuk menjadi volunteer di ajang festival sastra bergengsi Ubud Writers & Readers Festival saat itu. Di gelaran Internasional itu, Ochie mendapatkan tugas sebagai Liaisons Officer untuk penulis nasional, Seno Gumira Ajidharma. Menariknya tidak berhenti hanya sebagai volunteer selama dua minggu, Ochie malah memutuskan untuk  menetap dan mencari kerja di Ubud.

“Waktu itu kebetulan UWRF membuka lowongan fulltime sebagai volunteer coordinator. Aku ditawarin dan kemudian diterima jadi salah satu bagian di sana,”

sambungnya. Dalam perjalanannya, siapa sangka Ochie tidak hanya bertemu dengan tambatan hatinya, Stephen di Ubud, tetapi juga menemukan mimpi barunya lewat Cinta Bahasa.

Kisah FloLady

Sesosok feminin itu bernama FloLady. Gadis berambut panjang bergelombang ini sangat menyukai bunga. Saking besarnya rasa cinta FloLady terhadap bunga, terutama mawar merah, membuat busananya pun kerap dihiasi aksen-aksen kembang. Bunga mawar juga menjadi simbol dari karakter FloLady yang cenderung girly dan bersahaja. Sejatinya karakter FloLady ini hanyalah fiktif belaka. Karakter ini muncul dalam sebuah buku karangan Ochie yang bertajuk A Tale of Crestfallen by FloLady. Ya, diam-diam ternyata Ochie telah mengeluarkan debut karya sastranya di tahun 2012 lalu.

“Aku memang suka nulis, tetapi aku enggak mau dibilang penulis. Banyak kawan yang mendorong aku untuk nerbitin buku ini. Konsep buku ini sendiri sebenarnya lebih cenderung ke kumpulan cerita pendek, di mana isinya lebih bersifat personal baik menyangkut kehidupan aku maupun di sekitar aku,” ujar wanita yang gemar mengenakan dress ini. Dalam bukunya, Ochie juga mengajak para pembaca untuk melepaskan kesedihan dan mengetahui pasti apa sesungguhnya persoalan mereka, serta mampu menemukan solusinya sendiri.

Uniknya dalam buku perdananya tersebut, Ochie berkolaborasi dengan saudari kembarnya. Ilustrasi-ilustrasi cantik yang menghiasi seluruh halaman buku tersebut merupakan hasil goresan tangan saudari kandungnya sendiri. Ochie mengaku kalau buku tersebut diterbitkan secara indie dan hanya hanya dicetak terbatas sekitar 500 eksemplar. Pun bisa ditemukan di beberapa toko buku tertentu di daerah Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Bali. Buku ini juga pernah launching di ajang Ubud Writers & Readers Festival 2013.

Usut punya usut, ternyata karakter FloLady sudah menempel pada diri Ochie layaknya “brand” jauh sebelum dirinya merilis buku tersebut. Di laman blog dan media sosialnya, Ochie malah lebih dikenal dengan embel-embel FloLady yang menyertai nama terangnya. “FloLady ini sebenarnya alterego yang tak sengaja dibuat olehku dan saudariku. Kebetulan saudariku itu punya clothing line di Jakarta yang bertema dark. Nah, FloLady ini sengaja dibikin sebagai pelengkap dari clothing brand story tersebut. Karena aku juga bantu branding, mau enggak mau karakter itu juga nempel sama aku,” tegas wanita yang juga punya hasrat di bidang fashion ini.

Ochie juga mengungkapkan, bahwa karakter FloLady yang dibuat memang mengikuti dari karakter pribadinya secara nyata. Baik dari segi fisik yang identik dengan rambut keriting dan tubuh semampai, segi fashion yang cenderung feminin, dan juga pencinta bunga. “Semua barang kesukaanku pasti ada motif bunganya. Kalau mau ngasik kado aku gampang aja, cukup sekuntum mawar,” pungkas wanita penikmat karya Jane Austen dan Virginia Woolf ini penuh tawa.

 

Karakter FloLady yang dibuat memang mengikuti dari karakter pribadinya secara nyata. Baik dari segi fisik yang identik dengan rambut keriting dan tubuh semampai, segi fashion yang cenderung feminin, dan juga pencinta bunga.”

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2017 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri