DSC00383

Yukka Harlanda – Insinyur Sepatu BRODO

Gelarnya boleh jadi insinyur, dan nggak kepalang tanggung, jebolan dari kampus beken sekelas ITB. Tapi bukan itu yang menuntunnya untuk menjadi teknokrat. Garis takdirnya berkata lain, ia justru menjadi penjaja sepatu ‘keliling di sosial media’.  Inilah yang terjadi pada perjalanan hidup Yukka Harlanda, pemuda asal kota Bandung yang sukses sebagai pengusaha di usianya yang masih sangat muda. Sejak tahun 2010, Yukka memanfaatkan media sosial untuk memasarkan sepatu buatannya. Ketika itu dirinya belum mempunyai modal untuk membuat toko. Namun Yukka layaknya pengusaha yang gigih, memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk sepatu yang diberi nama BRODO.

Dan keputusan ini ‘tak bertepuk sebelah tangan’. Dari yang tadinya berjualan dari kamar kos, kini Brodo mempunyai tujuh outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Tangerang, Makassar dan Surabaya. Itu semua didapat Yukka berkat media sosial dan strategi yang diterapkannya. Tidak puas sampai disitu, Yukka mempunyai mimpi menjadikan BRODO sebagai salah satu brand dunia sekelas Nike atau Adidas.

Berikut adalah wawancara Nur Hakim reporter Money&I di Jakarta kepada Yukka. Mulai dari proses ‘kecelakaannya’ hingga menjadi pengusaha, hingga cita-citanya untuk BRODO dimasa mendatang. Berikut kutipannya.

Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai usaha ini?

Cerita awal sebenarnya, lebih pas kalau disebut “kecelakaan”, maksudnya dari awal tidak pernah berpikir untuk bisnis, punya karyawan banyak dan bisa jadi seperti sekarang ini. Dulu saya kuliah di insititut Teknologi Bandung (ITB) bersama Uta, kawan saya. Yang saya pikirkan ketika itu saya ingin jadi engineer, dan tak pernah berpikir membuat bisnis seperti ini.

Berawal dari masalah di kaki, yakni ukuran kaki saya 45-46 dan jarang sekali ada sepatu dengan ukuran seperti itu yang dijual di Indonesia. Sementara di satu sisi, Uta ingin sekali berbisnis, tapi nggak tahu mau berbisnis apa, dan tak ada ide. Nah dari situ semua bermula. Saya ceritakan kepada Uta tentang masalah kaki saya. Uta juga bercerita bahwa dia ingin berbisnis.

Akhirnya kami ke Cibaduyut membuat custom sepatu dan tiba-tiba muncul pemikiran, kenapa tidak kami iseng-iseng berbisnis sepatu handmade. Kemudian kami mencoba membuat beberapa sepatu dan memasarkannya ke pameran-pameran dan di media sosial. Dari sanalah kemudian berawal hingga berkembang seperti sekarang.

Kenapa diberi nama BRODO?

Brodo itu kan artinya kaldu ayam yang berasal dari bahasa Italia. Kami ambil filosofi kaldu ayam dan memasukannya ke sepatu, karena sepatu merupakan elemen yang sering terlupakan di dalam fashion, jadi kami ingin memberi tahu bahwa sepatu itu penting. Dan juga, kan enak memanggil teman-teman dengan kata-kata, “bro, bro, bro”. Yah, agar lebih familiar, maka jadilah BRODO he..he..he…

Apakah mendapat pengaruh dari Toms Shoes atau Zappos?

Pasti, karena kami memperhatikan, brand sepatu yang mendunia saat ini. Saya juga mempelajari kenapa Toms Shoes atau yang lainnya bisa mendunia. Yang saya pelajari bahwa mereka punya ciri khas tersendiri. Seperti Toms Shoes, mereka kuat sekali dengan ceritanya, padahal sepatunya biasa saja. Tapi mereka menunjukan karakter, konsep giving-nya mengatakan, ini lho konsep saya. Dan kadang orang membeli sepatu itu bukan karena sebatas sepatu saja, tapi mereka ingin mengatakan, ini lho konsep diri saya, ini lho identitas saya, seperti Gentlemant, Local Pride dan sebagainya. Jadi kita harus paham benang merahnya itu apa.

Bagaimana dengan BRODO?

Produk dan desain. Produk kami harus iconic. Prinsip dasarnya BRODO itu timeless, tak termakan oleh waktu. Timeless itu desainnya simple walaupun sudah beberapa tahun lewat, tetap enak dilihat. Warnanya ya cokelat, hitam atau hijau muda.

BRODO dinilai sebagai salah satu perusahaan kreatif yang paling menjanjikan, dan ini karena strategi media sosial yang demikian efektif. bisa ceritakan tentang hal ini?

Ya harus kreatif. Begini, saya menerapkan semuanya harus kreatif, maksudnya semua orang yang menjadi bagian atau bekerja di BRODO harus kreatif, mulai dari bagian marketing, divisi-divisinya sampai shopkeeper pun harus kreatif. maka itu karyawan saya sebagian besar anak kuliahan, karena saya pikir anak kuliahan pasti mereka muda, dan mereka juga punya pikiran atau ide yang fresh atau baru jadi kami selalu mengikuti perkembangan fashion dan segala hal. makanya mereka saya minta untuk kreatif dalam segala hal.

Saya memulai BRODO dari media sosial, karena pada awalnya belum ada toko untuk berjualan. Jadi saya berjualan dari kamar kos lewat media sosial, dengan memasang foto-foto produk BRODO yang dikemas sedemikian kreatif.

Apa saja strategi di media sosial yang dijalankan oleh BRODO?

Engagement, Entertain and Education. Engagement itu kita harus menjaga hubungan baik dengan konsumen, tak sekadar jual beli saja, kita ajak ngobrol dan meminta saran, jadi ada feedback. Entertain, maksudnya kontek yang kita keluarkan di media sosial itu harus menghibur, semuanya harus menghibur, karena pelanggan terhibur, kita juga bisa tidur he..he..he… Kalau education, kita sering sharing dan ada forum juga dengan konsumen mengenai tips dan trik merawat sepatu atau memilih kualitas sepatu, sehingga kita belajar satu sama lain. Dan terakhir kreatif itu hal yang wajib.

Semua strategi ada timnya. Jadi mereka yang menentukan strateginya, tapi sebelum itu, saya sudah lebih dulu memilih pegawai yang saya butuhkan. Karakternya seperti apa, mentalnya bagaimana, semangat untuk membesarkan perusahaan bagaimana. Karena saya mempunyai pemikiran, ‘akan lebih kuat kalau perusahaan bukan CEO yang turun langsung’, tugas saya sekarang yakni memantau saja, karena semua mereka yang jalankan, saya menjaga apa yang menjadi komitmen perusahaan, jadi saya lebih ke sumber daya manusianya. Kalau mau lihat detil strategi pemasaran kami di media sosial, lihat saja website BRODO disana semua terpapar. Kami sering memberikan promo seperti yang baru-baru ini kami lakukan, yakni cuci gratis. Satu hal lagi, kalau kita bermain di media sosial, terkadang sering berbeda antara foto di media sosial dengan aslinya. Hal itu yang selalu saya jaga, menjaga kepercayaan konsumen, memberikan service yang baik. Hal itu yang selalu saya terapkan baik di online ataupun offline.

Dari proporsi sekarang, penjualan lebih banyak dari online atau offline?

Penjualan online lebih banyak, sekitar 60:40, proporsi 60% di online dan 40% di offline, atau konsumen yang datang langsung ke toko.

Menurut Anda seberapa penting strategi offline?

Sangat penting. Saya selalu mendata konsumen yang belanja langsung di BRODO. Saya minta email, dan nomor telepon mereka. Kami juga melihat mereka datang berapa kali dalam kurun waktu tertentu. Nah kalau mereka sering datang, dan kemudian datang lagi, saya selalu bilang ke shopkeeper untuk memberikan hadiah, apa aja hadiahnya? Saya bilang terserah mau dikasih dompet, sepatu dan baju yang mereka suka.

Berapa harga rata-rata sepatu BRODO?

Untuk sandal Rp. 250 ribu, sepatu rata-rata Rp.699 ribu sudah termasuk ongkos kirim. Paling mahal Rp. 2,9 Juta yang limited edition. Cuma ada satu sepatu, dibuat oleh Pak Sobana.

Siapa yang  membuat konten-konten promosi BRODO di media sosial, apakah memiliki tim khusus dari luar atau outsource?

Tak ada tim khusus, kami yang melihat sendiri mana karyawan yang mempunyai potensi. Mereka ada di Bandung, mulai dari melakukan sesi foto, promo dan lain-lain.

Bagaimana dengan produksinya, dimanakah BRODO di kerjakan?

Sepatu diproduksi di Cibaduyut, Bandung. Kami memesan dengan desain dari kami, tapi kami juga bina mereka agar lebih bagus lagi hasil kerjanya.

Bagaimana dengan persaingan pada industri sejenis?

Justru saya merasa saingannya bukan brand di indonesia, tapi brand global seperti Nike, siapa sih yang tak tahu Nike atau Adidas. Tapi itu menjadi motivasi buat kami supaya BRODO nantinya bisa mengglobal.

Berapa kapasitas produksi saat ini?

Di Jakarta saja yang sudah terkirim ada seribu pasang. Tapi tak tentu juga, seperti lebaran minimal naik dua kali lipat. Harapan saya sih setiap bulan meningkat 10%.

Saat ini berapa jumlah outlet yang dimiliki?

Saat ini ada tujuh outlet. Di Jakarta ada dua, di Bandung, Bekasi, Surabaya, Makassar, Tangerang masing-masing satu.

Apakah ada rencana Go-Public nantinya?

Ya ada rencana untuk go public. Tapi yang saya tahu di Indonesia masih belum ideal dan belum ramah.

Terbukakah BRODO dengan investor dari luar?

Sudah ada tawaran dari Jepang, Malaysia dan lain-lain. Tapi menurut saya belum saatnya. Di Indonesia sendiri masih ada 30 juta pria yang menjadi target Pasar BRODO.

Apa target ke depan secara bisnis untuk BRODO?

Saya ingin sekali BRODO menjadi brand global. Kami kan masih kecil nih. Kami ingin besarkan dulu di Indonesia, lalu Asia Tenggara dan kemudian mendunia. Kalau target ke depan, secara bisnis kami terus memperbaiki kualitas produk dan berkreasi.

Adakah harapan Anda yang belum tercapai?

Semoga kualitas sumber daya manusia di Indonesia bisa lebih baik lagi dalam hal berkreasi, dan membuktikan kepada dunia bahwa produk Indonesia itu nggak kalah bagus.

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Flag Counter

Copyright © 2018 ISEEBALI . All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri